Luwukpost.id — Menutup rangkaian kegiatan Pekan Penyu Banggai, Sanggar Teater Athena bersama Yayasan Penyu Indonesia (YPI) dan Aliansi Konservasi Tompotika (AlTo), menggelar puncak kegiatan dalam pertunjukan seni teater berjudul “Bersembunyi di Balik Dosa” di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Lalong, Luwuk, Kabupaten Banggai pada Jum’at (23/12) malam.
Para penonton yang berkumpul di depan panggung terlihat sangat antusias dan menikmati pertunjukan.
Muhamad Jayuli, Program Manajer Yayasan Penyu Indonesia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan dari serangkaian acara Pekan Penyu Banggai, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pelestarian penyu, serta mengajak masyarakat turut serta dalam upaya perlindungan penyu. Pekan Penyu Banggai telah dilaksanakan sejak tanggal 19 – 23 Desember 2022 dengan berbagai kegiatan kampanye, baik di sosial media, maupun kegiatan yang melibatkan masyarakat.
Berdasarkan hasil pengamatan dan informasi dari masyarakat, pemanfaatan penyu secara ekstraktif masih terus terjadi di Kabupaten Banggai. Sebagian masyarakat masih mengonsumsi daging penyu untuk dihidangkan ketika pesta maupun perayaan hari raya tertentu.
Selain itu, perdagangan produk berbahan penyu sisik juga masih terjadi. Produk sisik penyu dijual dengan harga mulai Rp 10.000 (berupa cincin) hingga Rp 50.000 (berupa gelang). Padahal, menurut UU No. 5 tahun 1990 tentang KSDAE, menyatakan bahwa mengonsumsi, memakai, menjual, membeli penyu dan bagian tubuhnya adalah kegiatan melanggar hukum dan dapat diancam pidana 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.
Oleh karena itu, dengan dukungan dari CEPF (Critical Ecosystem Partnership Fund) dan Burung Indonesia, serta bersama-sama dengan instansi pemerintah terkait dan berbagai komunitas di Kabupaten Banggai, maka Pekan Penyu Banggai diselenggarakan.
“(Kabupaten) Banggai ini kaya sekali lautnya, banyak keanekaragaman hayati laut yang perlu kita lestarikan. Mari jo, kita jaga sama-sama torang pe laut,” Imbuh pria yang akrab di sapa Jayuli itu.
Lady Diana Khartiono, sutradara, pertunjukan teater berjudul “Bersembunyi di Balik Dosa” ini mengisahkan tentang Elia, anak-anak di masa depan yang kehilangan kesempatan melihat penyu lagi. Namun, mereka tetap dihantui oleh sesosok hantu penyu yang menyeramkan yang menggambarkan alam yang murka karena aktivitas manusia di masa lalu yang masih saja mengambil telur, daging, dan sisik penyu.
Selain pertunjukan teater, acara malam itu juga menampilkan musikalisasi puisi oleh Ali Sopyan dan pementasan musik oleh Arifin.
Abdy Gunawan, penulis naskah itu mengatakan bahwa seni merupakan salah satu media efektif menyuarakan tentang isu-isu terkait lingkungan. Ia berharap, pertunjukan ini mendapatkan tempat di hati masyarakat dan dapat memunculkan karya-karya lainnya.
“Terima kasih untuk YPI dan AlTo telah memberikan ruang sehingga kami bisa berkarya dan menampilkannya untuk menyuarakan isu lingkungan,” imbuh Abdy sambil menutup pertunjukan.
Faradila, salah satu pengunjung mengatakan bahwa ia sangat menikmati pertunjukan malam ini.
“Seru sekali tadi pertunjukannya, kita jadi sadar bahwa kita perlu melindungi penyu agar alam tidak murka,” tambahnya.(*)




