Oleh
Ibnu Saluri Dilama
Universitas Muhammadiyah Malang
Media sosial adalah konten online yang dibuat menggunakan teknologi penerbitan yang sangat mudah diakses dan terukur. Hal yang paling penting dari teknologi ini adalah terjadinya pergeseran cara mengetahui orang, membaca dan membagi berita, serta mencari informasi dan konten. Media sosial kini sudah dianggap sebagai sumber informasi tercepat dan menjadi bagian dalam kehidupan manusia seharihari. Media sosial dapat membantu manusia untuk mengikuti aktivitas terkini, baik secara umum maupun khusus. Terlebih di zaman sekarang ini, khususnya di kalangan remaja pasti memiliki sosial media Instagram.
Kebebasan dalam bersosial media menjadi tantangan bagi setiap orang karena sulitnya pengendalian untuk bermedia sosial yang bijak. Kemajuan teknologi memudahkan generasi muda dan remaja untuk berinteraksi dengan Internet, situs jejaring sosial, dan bahasa remaja yang sering digunakan, yang digunakan secara luas dan mudah diakses. Perkembangan teknologi berpandangan bahwa bahasa yang keluar dari mulut remaja berbeda-beda, bahkan bahasa yang kotor dan kasar pun tidak jarang dari satu tempat ke tempat lain. sehingga terkadang menjadikan seseorang melakukan hal yang kurang mengenakkan yaitu berkomentar sarkasme di sosial media.
Berbagai bentuk penggunaan bahasa yang ironis membuktikan bahwa hubungan remaja sangat terikat dengan gaya bahasa sarkasme, karena remaja lebih cenderung emosional karena sifat remaja yang labil.
Remaja memprioritaskan emosi dalam setiap aspek kehidupan mereka. Ketika emosi terangsang, remaja kesulitan mengendalikan emosinya dengan cara yang melepaskannya, dengan menggunakan ironi khusus untuk mereka yang memancingnya. Sifat emosional remaja juga mendorong remaja untuk jujur atau menyembunyikan kebohongan.
Penggunaan bahasa sarkasme dalam media sosial instagram dapat memengaruhi value diri remaja. Pengaruh penyalahgunaan bahasa sarkasme yaitu : Berpengaruh karena dinilai memberikan pengaruh buruk dalam pertemanan dan bisa saling menyakiti melalui kata yang diucapkan, pengaruh komentar orang lain yang bisa saja memberikan dampak kepada yang membaca, serta Penggunaan bahasa juga memengaruhi pertemanan dan bahasa yang kasar cenderung digunakan oleh seorang remaja yang memiliki pergaulan buruk.
Sebagian besar orang mungkin menggunakan sarkasme untuk bahan lelucon belaka, namun tidak jarang kalimat sarkastik dapat benar-benar menyinggung hati orang lain. Cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi sarkasme dari orang lain yang tidak sesuai konteks adalah jawab secara harfiah sehingga dapaf mematahkan sarkasme yang dikeluarkan, bersikap tidak peduli, mengabaikan, dan jangan ditanggapi, serta beritahu dan edukasi untuk tidak bersikap semena-mena dan berkata sarkasme yang tidak seharusnya diucapkan.
Dibalik remaja yang menggunakan bahasa sarkasme dalam media sosial Instagram tentunya terdapat beberapa faktor yang memengaruhi remaja tersebut. Berdasarkan pengamatan yang ada, salah satu faktornya yaitu kebiasaan hidup seharihari. Perilaku yang ditunjukkan oleh remaja dalam bermedia sosial memiliki kecenderungan sifat yang tidak berbeda dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa yang ditampilkan remaja di media sosial sama dengan perilaku dan gaya dalam kehidupan sehari-hari. Ketika remaja sering membuat komentar kasar di media sosial, menunjukkan bagaimana para remaja berkomunikasi dengan orang lain di kehidupan nyata. Faktor berikutnya adalah keinginan untuk menekankan eksistensi diri. Remaja yang sering muncul di semua postingan, mungkin ingin keberadaannya diakui oleh masyarakat umum. Hal tersebut dilakukan bukan tanpa alasan, namun tujuan mereka adalah untuk mendapatkan perhatian dan pujian publik sehingga mereka dapat memiliki kebahagiaan tersendiri. (*)
