Manajemen PT Panca Amara Utama (PAU) bersama Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Perkebunan menggelar rapat evaluasi kelompok tani program kerjasama.
Rapat evaluasi ini dilaksanakan di Hotel Permai, Karaton, Kecamatan Luwuk, Banggai, pada Sabtu (7/12).
Rapat evaluasi ini tidak hanya membahas soal capaian hasil pertanian yang dilakukan oleh kelompok tani, melainkan tentang rencana kerja pada tahun 2025 akan datang .
Sr External Relations Officer, Novari Mursita, mengatakan rapat evaluasi ini tentunya melibatkan mereka yang menjadi binaan kelompok tani Dinas TPHP serta mendapat bantuan dari PT PAU.
Novari mengaku, sebelumnya apa yang telah dilaksanakan oleh pihaknya mendapat apresiasi dari atasan manajamen PT PAU. Apalagi, belum lama ini beberapa media telah memberitakan bahwa pihaknya telah memanen tomat sebanyak satu ton.
Baginya ini adalah sebuah capaian yang sangat luar biasa, sebagai harapan tentunya bisa menjadi contoh hingga berkembang.
Disebutkan Novari, PT PAU juga memiliki satu program yang diberi nama SINAPATU yang artinya (Bersatu). Menurut Novari kata ini diambil dari bahasa daerah Saluan. Makna bersatu juga selaras dengan nama grup Essa alias satu sehingganya dikatakan memiliki makna yang sama.
Dengan begitu, pihaknya berkeinginan agar semua stakholder dapat menyatu. Dalam pertanian, PT PAU juga memiliki percontohan tentang tanaman buah tomat dan cabe, pekerjanya adalah wanita semua.
Di samping itu, pihaknya pula hadir di kelompok Srikandi mandiri yang bergerak dalam bidang pengolahan pupuk cair.
“Jadi kami berharap, contoh-contoh kelompok ini, bisa menjadi kelompok terutama yang ada di disini, ” ucapnya
Tentu sebagai harapan, kedepan ini bisa menjadi contoh bagi yang lain, di luar Kecamatan serta binaan Dinas TPHP dan PT PAU.
Harapan kedua tentunya, binaan-binaan PT PAU bisa mengalami kesuksesan dan menceritakan atas keberhasilannya hari ini, terlebih saling memberikan atau bertukar informasi.
“Maka kami berharap petani yang ada di Batui, Kintom dan Nambo, dapat memberikan laporannya tentang apa yang dilakukan,” tuturnya.
Di sisi lain, Novari menuturkan permasalahan yang tak jarang dihadapi oleh kelompok maupun petani mandiri, yakni berkaitan dengan hasil yang kemudian akan dikemanakan.
Dirinya menerangkan, pihaknya memiliki binaan kelompok BUMDES arang di Kecamatan Kintom. Apa yang mereka hasilkan kini bisa di ekspor sampai ke luar negeri, hingga memberikan dampak ekonomi pendapatan.
Artinya para petani pula diharapkan dapat memanfaatkan seperti BUMDES untuk melakukan market atau wadah penjualan. Namun jika buah Tomat dan Cabe tentunya perlu dilakukan riset kembali sebab struktur buah yang cepat mengalami perubahan.
Begitupun soal pupuk, ia menyarankan agar para petani lebih menggunakan pupuk cair dibandingkan pupuk kimia. Sebab ini sangat berpengaruh terhadap hasilnya apalagi mengenai unsur tanah.
Di sisi lain, atas apresiasi yang diberikan oleh pihak atas management, tentu berkaitan dengan kontrak kedepannya, Novari mengaku akan mengusulkan lima tahun.
“Dan nantinya kita rencanakan masa kontraknya itu lebih lama,” cetusnya.
Novari berharap, kepada para kelompok yang menjadi binaan kali ini, dapat memberikan capaian yang lebih hingga memberikan contoh kepada mereka yang lain. ***
