Membentuk ‘Perilaku Baru’ Melalui Bulan Suci Ramadhan

Luwukpost.id -

 

 

Oleh : Ramli A Bidullah

(Dosen Ilmu Perilaku Kesehatan FKM Untika Luwuk)

 

Bulan Suci Ramadhan, Bulan yang penuh kemuliaan tinggal beberapa hari lagi. Bulan ramadhan akan meninggalkan kita dengan “membawa” catatan amal ibadah kita selama menjalankannya. Sekarang kita harus mempersiapkan diri untuk tetap mempertahankan perilaku-perilaku baik kita setelah bulan ramadhan. Untuk selalu memperbaiki diri menuju makna ketakwaan, seperti yang disampaikan Allah SWT :

“Hai orang Yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa,”

(QS Al Baqarah Ayat : 183).

Begitulah Allah memerintahkan kita berpuasa agar menjadi pribadi yang bertaqwa. Banyak terjemahan tentang Taqwa, saya sendiri memberikan pandangan Taqwa itu adalah bentuk perilaku sebagai manifestasi atas keimanan atau bentuk nyata dari keyakinan sesorang kepada Allah SWT yakni perilaku Mengerjakan perintahNya dan Menjauhi LaranganNya.

Segala bentuk Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dengan Perilaku. Setiap saat secara terjemahan bebas bahwa perilaku adalah segala hal yang kita lakukan tidak terbatas pada perilaku terbuka atau yang terlihat seperti bergerak berbicara dan lain-lain namun perilaku meliputi yang tidak terlihat seperti aktivitas berfikir, sedih, senang dan segala ekspresi jiwa seseorang. Begitu kompleksnya perilaku manusia karena memang manifestasi atau cerminan adanya jiwa pada manusia adalah perilaku.

Bulan puasa adalah bulan melatih perilaku kita yang diluar bulan puasa kita terbiasa makan dan minum 3 kali sehari bahkan lebih, dibulan puasa kita dilatih menahan perilaku makan dan minum serta hubungan suami istri. Selain perilaku tersebut kita juga dilatih menahan diri untuk berbuat hal hal yang tidak berguna atau berpotensi menimbulkan dosa seperti Gibah, menceritakan keburukan orang lain, marah, memaki sampai berbicara kotor. Bulan Ramadhan kita dilatih untuk menahan diri dari perilaku tidak baik dan dianjurkan untuk berperilaku baik perilaku yang sifatnya Vertikal kepada Allah SWT seperti ibadah spiritual maupun perilaku yang sifatnya Horizontal sesama manusia seperti zakat dan sedekah baik berupa moril maupun materil.

Latihan pada bulan Ramadan bukanlah tanpa Alasan, Sesungguhnya Allah melatih semua perilaku tersebut dengan maksud apabila orang orang yang melewati bulan Latihan ini dengan baik, diharapkan mampu membentuk Perilaku-perilaku baru sesuai dengan harapan Allah SWT menjadi Orang yang bertaqwa sebagai hasil sintesis perilaku Baru dari latihan di bulan Ramadhan. Sehingga diharapkan setelah bulan ramadhan selesai orang orang yang sungguh sungguh menggunakan bulan ini sebagai bulan pembentuk “PERILAKU BARU” yakni perilaku untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetap melaksanakan perilakunya secara konsisten dan konsekuen dalam melaksanakan dan menjaga kualitas perilaku seperti saat bulan puasa.

Perubahan perilaku tidak terlepas dari peran otak sebagai representasi jiwa yang dimanifestasikan atau dicerminkan melalui perilaku. Otak merupakan central Prosessor Unit (CPU) pada manusia dalam menentukan perilaku seseorang, salah satu sifat otak adalah bersifat Plastisitas atau selalu berkembang secara terus menerus yang diikuti perkembangan sel sel saraf didalamnya. Ketika seorang dilatih sesuatu kebaikan maka akan tercipta jaringan antar sel saraf baru yang biasa disebut Sinapsis. Sinapsis-sinapsis yang terbentuk selama bulan Suci Ramadhan dengan melatih perilaku kita menjadi perilaku yang baik baik, secara otomatis kita membentuk sinapsi- sinapsis perilaku baik dalam otak kita dan Insya Allah akan terus bertahan setelah bulan Ramadhan.

 

Inilah yang dimaksud dengan Bulan suci Ramadhan sebagai Sarana membentuk atau mensistesis perilaku baru, yang sebelum bulan puasa kualitas perilaku kita sebagai hamba dan khalifah hanya biasa biasa saja akan menjadi perilaku yang luar biasa yakni perilaku yang mengarah kepada perilaku orang orang yang Allah SWT maksudkan menjadi orang orang yang Tattaquun/bertaqwa.

Allahu A’lamu Bis-Sawab.

Komentar