Kejang tidak hanya dialami anak-anak, tapi juga bisa terjadi pada orang dewasa, baik yang memiliki riwayat epilepsi maupun tidak. Kejang pada orang dewasa merupakan kondisi medis yang bisa muncul secara tiba-tiba akibat gangguan aktivitas listrik di otak dan mengganggu aktivitas harian, bahkan membahayakan keselamatan. Meski sebagian besar kejang tidak mengancam nyawa, kejang yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan cedera serius, penurunan kualitas hidup, dan stres psikologis. Namun, kabar baiknya: sebagian besar upaya pencegahan bisa dilakukan dari rumah untuk membantu mengurangi risiko kambuhnya kejang, khususnya bagi mereka yang telah memiliki riwayat.
Apa saja penyebab kejang pada orang dewasa? kejang dapat dipicu oleh berbagai hal, seperti:
• Epilepsi
• Kurang tidur
• Stres berlebih
• Penggunaan alkohol atau narkoba
• Infeksi atau cedera otak
• Efek samping obat tertentu
Berikut adalah beberapa cara pencegahan kejang yang bisa diterapkan di rumah:
1. Minum Obat Secara Teratur dan Sesuai Anjuran Dokter
Bagi penderita epilepsi atau yang memiliki riwayat kejang, minum obat antikejang secara rutin sangat penting. Jangan pernah menghentikan obat tanpa berkonsultasi dengan dokter. Melewatkan satu dosis saja dapat meningkatkan risiko kambuhnya kejang.
2. Cukup Tidur
Kurang tidur merupakan salah satu pemicu kejang yang paling umum. Pastikan untuk tidur 7–9 jam setiap malam. Tidur yang cukup membantu otak tetap stabil dan mengurangi aktivitas listrik abnormal yang bisa memicu kejang.
3. Kelola Stres
Stres emosional atau tekanan psikologis dapat menjadi pencetus kejang. Lakukan aktivitas relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, yoga, atau mendengarkan musik tenang. Konseling psikolog juga bisa menjadi pilihan bijak bagi yang mengalami tekanan mental berat.
4. Hindari Alkohol dan Obat Terlarang Konsumsi alkohol berlebihan dapat menurunkan ambang kejang. Beberapa obat terlarang juga bisa memicu kejang atau berinteraksi negatif dengan obat antikejang. Konsultasikan setiap obat atau suplemen baru yang ingin dikonsumsi kepada dokter.
5. Hindari Kilatan Cahaya atau Pola Visual Tertentu
Bagi penderita epilepsi fotosensitif, cahaya yang berkedip cepat (seperti lampu disko atau layar elektronik tertentu) bisa memicu kejang. Gunakan filter layar atau hindari lingkungan dengan kilatan cahaya berlebihan.
6. Pola Makan Seimbang
Nutrisi juga berperan penting. Beberapa jenis diet, seperti diet ketogenik, terbukti membantu mengendalikan kejang pada sebagian pasien. Namun, diet ini hanya boleh dilakukan di bawah pengawasan dokter atau ahli gizi.
7. Pasang Alarm atau Sistem Keamanan
Jika tinggal sendiri dan memiliki risiko kejang, penting untuk memasang sistem keamanan seperti alarm darurat, kamera pemantau, atau memiliki kontak keluarga yang bisa dihubungi saat kondisi darurat.
8. Waspada terhadap Pemicu Pribadi
Setiap orang mungkin memiliki pemicu kejang yang berbeda-beda. Catat dan kenali pola kejang Anda: apakah sering muncul setelah begadang, saat stres, atau saat demam tinggi? Mengenali pemicu pribadi membantu Anda menghindarinya lebih efektif.
Kejang bisa mengubah kehidupan seseorang, tetapi dengan langkah pencegahan yang tepat dan disiplin dalam perawatan di rumah, risiko kejang dapat diminimalkan. Edukasi diri dan keluarga, serta menjaga komunikasi terbuka dengan dokter, adalah kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi penderita kejang. Kesehatan otak dimulai dari rumah.(*)

Komentar