Dari Pelosok Internet Sampai Arang Swedia

Luwukpost.id -

Satu-satunya perusahaan pertama yang menjalankan dan melakukan kerjasama Corporate Social Responsibility (CSR), begitu ungkapan salah satu Penjabat di Bagian Kerjasama Sekretariat Daerah Kabupaten Banggai, Fahmi Arifudin Rizal, pada Kamis, 24 Juli, 2025.

Perusahaan ini fokus pada pengolahan limbah yang kemudian diproduksi menjadi pupuk Amonia, lokasinya berada di Kecamatan Batui, Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Ia merupakan anak perusahaan dari PT Surya Esa Perkasa Tbk (SEP). Mereka identik dengan seragam khas berwarna biru dan sedikit kehijauan.

Sebagai perusahaan besar di Kabupaten Banggai, PT Panca Amara Utama (PAU) terbilang tidak hanya sibuk soal produksi amonia saja. Namun, tak luput dari tanggungjawab hingga mengambil perannya dari program CSR-nya.

Dari beberapa perusahaan besar, PT PAU lah yang dinilai lebih dulu berani mengambil langkah tersebut untuk bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Banggai.

Langka positif ini bermula pada tahun 2022, perusahaan seragam biru itu mulai menggagas harapan besar lewat perjanjian kesepakatan kerjasama dengan pemerintah. Hingga sampai dengan 2025, PT PAU melebarkan sayap CSR-nya yang disinergikan bersama delapan instansi atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

CSR itu kemudian mulai dijalankan dan turut menyasar berbagai program pemberdayaan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya dalam mendukung peningkatan dunia pendidikan.

Pada tahun 2024, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah (Disdikbud) Kabupaten Banggai, CSR PT PAU menyalurkan bantuan akses internet (Starlink, red) pada 13 sekolah yang berada di pelosok Kabupaten Banggai, seperti di Kecamatan Batui, Batui Selatan, Toili, Toili Barat, dan Pagimana.

Pemberian akses internet Starlink ini bertujuan untuk mendukung kualitas pendidikan di era teknologi yang begitu pesat. Mengingat akses internet yang cepat dan stabil sangat mudah ditemukan di kota-kota besar. Namun di wilayah pelosok sendiri masih menjadi tantangan tersendiri.

Tidak hanya pada ruang pendidikan, Oktober tahun 2024 lalu, program pemberdayaan juga dibuktikan lewat peningkatan kapasitas juru sembelih bersertifikat halal yang dikerjasamakan bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Diskeswan) Kabupaten Banggai.

Pelatihan ini disebutkan guna meningkatkan pemahaman juru sembelih untuk mendapatkan legalitas dan bersertifikat halal. Ini bertujuan untuk mendukung serta dapat menjamin proses pemotongan hewan sembelih yang halal di tengah masyarakat sesuai syariat.

Program pemberdayaan CSR PT PAU juga tak lepas dari lingkup pertanian, beberapa bantuan disalurkan berkaitan dengan kebutuhan kelompok petani yang menjadi binaan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Banggai.

Tak tanggung-tanggung, bantuan itu berkaitan dengan alat pendukung guna memudahkan kelompok tani agar lebih maju dalam usaha pertaniannya, seperti bibit, mesin, bahkan hingga pupuk. Menariknya PT PAU pula memiliki binaan kelompok Srikandi Mandiri yang bergerak dalam bidang usaha pengolahan pupuk.

Upaya bantuan PT PAU tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban, melainkan diharapkan dapat menjadi contoh bagi kelompok lain hingga dapat berkembang dan maju serta bisa menjadi perpanjangan tangan untuk saling berbagi ilmu pengetahuannya.

Begitupun soal program ekspor perdana tentang arang batok kelapa ala BUMDes Uling, Kecamatan Kintom. Berkat kegigihan pemuda setempat dalam mendorong perekonomian lokal, mereka mampu menembus pasar Internasional.

Melalui Ailesh, BUMDes Uling mengirimkan sebanyak 12 ton arang batok kelapa ke negara Swedia. Ini menunjukan bahwa BUMDes di Banggai mampu menembus Internasional.

Keberhasilan itu pula tentunya tak lepas dari peran PT PAU, ia hadir sebagai fasilitator yang menghubungkan antara BUMDes dan Ailesh atas pemasaran produk ke negara Swedia. Bahkan perusahaan Amonia bersama pemerintah daerah Banggai turut memberikan stimulan modal untuk memastikan usaha ini.

Ekspor perdana itu, dilepas secara resmi oleh Wakil Bupati Banggai, Furqanuddin Masulili, pada Agustus 2024 lalu. Sebagai pemerintah tentunya sangat mengapresiasi keberhasil BUMDes Uling serta peran dan sinergi PT PAU dan Ailesh.

Pemda berharap keberhasilan ini tidak hanya sampai pada ekspor perdana saja, melainkan dapat berjalan secara terus menerus dan memberikan kesejahteraan masyarakat dalam peningkatan ekonomi lokal.

Tak sampai disitu, baru-baru ini, PT PAU membahas rencana kerjasama bantuan CSR dalam bidang kelautan bersama Kepala Dinas Perikanan Banggai, Ferlin Monggesang, pada Kamis, 24 Juli 2025.

Kata Ferlin, ini kali pertama program CSR yang akan dijalankan bersama perusahaan PT PAU. Anggaran yang disediakan pun berkisar Rp210 juta. Dalam kegiatan itu, pihak Disperik bersama PT PAU membahas kesepakatan kerjasama yang dikolaborasikan.

Pembahasan itu di antaranya soal kegiatan budidaya kepiting bakau di Kecamatan Toili, kemudian Bimtek peningkatan sumberdaya nelayan tentang Cara Penanganan Ikan yang Baik (CPIB) di atas Kapal, yang difokuskan di Kecamatan Moilong dan ketiga pemberian bantuan alat pengolahan untuk pelaku usaha hasil produksi perikanan.

Kegiatan pada sektor perikanan ini dikatakan bakal berlangsung di bulan Agustus 2025 mendatang.

Urusan CSR bukan perkara mudah, prosesnya cukup panjang, tidak serta merta langsung ada. Step by step, layaknya menaiki anak tangga dari bawa sampai ke atas.

Menurut Lead External Relation PT PAU, Novari Mursita, sejak lama maupun hari ini telah banyak menerima usulan proposal bantuan dari berbagai kelompok. Kondisinya pun menumpuk, bukan tidak ingin merealisasikan secara cepat, tapi harus melewati beberapa proses tahapan (Asesmen), sehingga harus menunggu.

“Bicara soal CSR tentunya membahas program, dan itu tidak sembarang, dikarenakan butuh waktu,” kata mantan Jurnalis TV Nasional itu.

Terlepas dari hal itu, ia juga mempertanyakan status perusahaan besar. Kalau dibilang PT, lalu bagaimana dengan perusahaan yang sudah berstatus PT, baik lokal maupun dari luar. bukan bermaksud hati, tapi lebih ingin berbagi tentang pengetahuan kepada masyarakat. Soal CSR, baginya tentu adalah kewajiban perusahaan.

Berbagai tantangan dihadapi saat menjalankan program CSR, kata Novari, tidak semua program itu berjalan dengan mulus, maka butuh pemahaman lebih untuk memaknai CSR.

Tidak hanya sekedar menjadi pencitraan saja, merealisasikan bantuan dan menggugurkan kewajiban. Tapi yang diharapkan bagaimana program CSR ini terus berjalan dan berkelanjutan.

Berbagai persoalan tak jarang ditemukan di lapangan, urusan ini terkadang membuat perusahaan kewalahan. Novari mengaku, untuk menyelesaikan beberapa masalah tersebut, pihaknya berharap ada dukungan kerjasama yang baik dari berbagai pihak, baik Pemda maupun Media.

Ini bukan tentang soal nilai, yang dibutuhkan bagaimana menyelesaikan kendala atau masalah selama mendapat realisasi program CSR. Sebab perusahaan tidak serta merta untuk hadir secara terus menerus.

Novari mengatakan CSR bukanlah bantuan mudah yang kemudian setelah direalisasikan lantas berpindah lagi satu ke tempat lain. Pemberian CSR juga berdasarkan kelompok yang memang benar-benar layak untuk diberikan alias membutuhkan, konsisten dan komitmen.

Hasilnya nanti diharapkan bisa berkelanjutan, seperti satu kelompok yang sukses dapat menjadi percontohan dan berbagai ilmunya kepada teman kelompok lain untuk meningkatkan pengetahuannya.

“Banggai ini memilki SDA yang melimpah. Sayang jika itu tidak dimanfaatkan dengan baik. Kami berharap program yang dijalankan bersama kami, bisa memberikan peninggalan warisan melalui program CSR,” ungkap Novari. ***

Komentar