Rektor Unismuh Luwuk: Lulusan Harus Jadi Kader Pembangunan dan Islam yang Unggul

Luwukpost.id -

Pagi itu, di aula Hotel Esterella Luwuk, wisuda Universitas Muhammadiyah Luwuk tidak hanya dipenuhi toga dan senyum keluarga. Ia juga dipenuhi harapan. Dari mimbar Rapat Senat Terbuka, Rektor Unismuh Luwuk, Dr. Sutrisno K. Djawa, menyampaikan lebih dari sekadar laporan akademik. Ia sedang menandai arah sebuah kampus yang ingin terus bertumbuh dan memberi makna bagi daerahnya.

Sebanyak 700 wisudawan dikukuhkan—629 lulusan sarjana dan 71 lulusan magister. Bagi Sutrisno, angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah hasil dari kepercayaan, ketekunan, dan kerja panjang yang telah ditempuh Unismuh Luwuk selama 25 tahun perjalanannya.

“Pada hari ini, para wisudawan kami kembalikan kepada keluarga dan masyarakat,” ujar Sutrisno. “Dengan harapan, mereka menjadi kader Islam sekaligus kader pembangunan bangsa.”

Dalam sambutannya, Sutrisno menempatkan wisuda sebagai momen refleksi. Kampus, katanya, tidak boleh berhenti pada rutinitas akademik. Ia harus bergerak mengikuti zaman, membaca kebutuhan masyarakat, dan menjawab tantangan masa depan.

Unismuh Luwuk, menurut Sutrisno, sedang berada pada fase konsolidasi mutu. Tahun 2025 menjadi penanda penting dengan diraihnya akreditasi institusi ‘Baik Sekali’ dari BAN-PT. Sebuah pengakuan atas upaya panjang memperbaiki tata kelola, kurikulum, dan sumber daya manusia.

Tak hanya institusi, program-program studi juga memperlihatkan kemajuan. Magister Manajemen meraih akreditasi Sangat Baik, disusul sejumlah program sarjana yang terakreditasi Baik Sekali dan Baik. Kampus ini kini menaungi 4.839 mahasiswa aktif, tersebar di 7 fakultas dan 19 program studi.

Sutrisno menegaskan bahwa keunggulan kampus tidak cukup diukur dari ijazah yang diterbitkan. Yang lebih penting adalah apa yang bisa dilakukan lulusan setelahnya.

Karena itu, Unismuh Luwuk mulai menata ulang pembelajaran melalui kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE). Hingga 2025, penerapan OBE telah menjangkau 85 persen program studi, dan ditargetkan tuntas sepenuhnya pada 2026.

“Kami ingin lulusan yang tidak hanya tahu, tetapi mampu,” kata Sutrisno.

Upaya itu diperkuat dengan kolaborasi nasional, termasuk pengembangan kurikulum berbasis STEM, serta hibah penguatan ekosistem pembelajaran dan kewirausahaan dari Kemendikbudristek.

Bagi Sutrisno, universitas tidak boleh menjauh dari realitas sosial. Ia harus hadir di tengah masyarakat melalui riset dan pengabdian.

Sepanjang 2025, dosen-dosen Unismuh Luwuk memperoleh hibah penelitian dan pengabdian nasional, lolos pendanaan KIBAR Riset Muhammadiyah, serta menghasilkan 198 hak kekayaan intelektual—dari hak cipta hingga paten.

Publikasi ilmiah pun tumbuh, dengan artikel di jurnal internasional bereputasi dan ratusan publikasi nasional terakreditasi.

“Itu semua adalah upaya agar ilmu tidak berhenti di rak perpustakaan,” ucapnya.

Dalam sambutannya, Sutrisno juga menyoroti pentingnya kualitas dosen dan karakter mahasiswa. Dari 157 dosen tetap, sebanyak 50 orang kini tengah menempuh pendidikan doktoral. Kampus menargetkan lonjakan jumlah doktor dalam dua tahun ke depan.

Namun, ia menegaskan, kecerdasan akademik harus berjalan seiring dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Identitas itulah yang, menurutnya, menjadi pembeda Unismuh Luwuk.

“Kami ingin melahirkan manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu berdiri tegak di tengah perubahan zaman,” kata Sutrisno.

Menjelang akhir sambutannya, Sutrisno menyampaikan terima kasih kepada orang tua dan keluarga wisudawan—mereka yang, menurutnya, paling banyak menyumbang doa dan kesabaran.

Ia menutup dengan harapan sederhana, namun mendalam: agar para lulusan menjaga nama baik almamater, dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.

Di Luwuk pagi itu, wisuda bukan sekadar perayaan. Ia adalah penegasan bahwa sebuah kampus sedang belajar tumbuh—pelan, tapi pasti—bersama harapan masyarakat yang menitipkan masa depannya. ***

Komentar