Saran Abah

Luwukpost.id -

Kabar gembira menyelimuti kantor Harian Luwuk Post, terlebih di bidang keredaksian. Sejak bulan November 2025 lalu, General Manager (GM), Aswar Poibara, mengabarkan kalau nanti akan ada kunjungan dari Dahlan Iskan alias DI.

Kunjungannya, tak lain ingin memastikan apakah Luwuk Post baik-baik saja, atau sebaliknya. Di sisi lain, ia hadir sebagai tamu undangan resmi di salah satu acara pernikahan, mantan karyawannya, yang dipersunting oleh lelaki asal kelahiran Nigeria.

Tapi sebelum itu, Abah, mengawali perjalanannya dari Kabupaten Morowali, Timur Sulawesi. Ia tiba di Bandara Udara Maleo, dan menempuh perjalanannya lewat darat menuju kota air Luwuk.

Kamis sore (18/12), GM dapat kabar, kalau perjalanan Abah telah memasuki kota Ampana. Diperkirakan bakal tiba tepat waktu malam hari. Sejak pukul 18.00 WITA, (Ba’da Isya), rekan-rekan Harian Luwuk Post mulai berkumpul, siap menyambut kehadiran beliau.

Rupanya, selang beberapa jam kemudian, Abah telah tiba di rumah pengantin wanita, malam itu ada acara tradisi budaya adat, Mapacing namanya. Tepatnya di Desa Bunga, Kecamatan Luwuk Utara. Desa pertama ditemui sebelum memasuki jantung ibu kota Kabupaten Banggai.

Malam itu, Abah mengikuti prosesi adat Mapacing pengantin wanita sampai dengan selesai. Kunjungan ke kantor terlewatkan, memungkinkan perjalanan panjang beliau untuk istirahat terlebih dahulu.

Sebab, paginya, Jumat (19/12) ada agenda senam semangat bersama Dahlan Iskan, pesertanya: karyawan Luwuk Post dan ibu-ibu, berlangsung di Hotel Santika, Kecamatan Luwuk Selatan.

Barulah malam hari, Abah berkunjung di kantor Harian Luwuk Post, beliau datang lebih cepat dari perkiraan. Pukul 18.00 WITA, dia sudah berada di ruangan rapat. Niatannya ingin menyambut kedatangan beliau, tapi telat beberapa menit.

Ternyata Abah tak sendiri, ia didampingi Direksi Keuangan Harian Disway, Annie Wong dan Manager Marketing, Vivian Vanesa.

Ruang diskusi ternyata sudah berlangsung, kala itu saya tiba bersama Wakil Pimpinan Redaksi, Mahmud Majid. Setibanya di kantor, kami bergegas menuju ruangan, berpapasan dengan Abah di depan pintu ruangan rapat.

Tanpa mengurangi rasa hormat, kami pun langsung bersalaman dan memperkenalkan diri sebagai karyawan. Di dalam ternyata sudah ada GM dan Manager Iklan Luwuk Post: Brenda, ditambah teman Abah.

Diskusinya ringan, diawali dengan tanya kabar, pun tentang pesan dan kesan saat tiba di kota Luwuk. Ini kali ketiganya ia berkunjung. Kami memulai percakapan itu dengan santai dan lugas, bak seperti rapat redaksi pada umumnya, di penghujung akhir tahun 2025. Tetapi ini berbeda, langsung bersama “Pembina”.

Pengalaman luar biasa, bagi redaksi Luwuk Post, terutama kami sebagai pemburu berita. Banyak saran yang kami terima, baik soal konten pemberitaan, khusunya di media cetak.

Abah pun mengingatkan tentang idealisme seorang Jurnalis, di era pesatnya teknologi, beliau cukup memahami posisi koran. Tapi, pesan Abah agar tetap menjaga idealisme profesi. Maksudnya, siapkan juga kolom berita atau halaman tentang kritikan, sembari mengoreksi hasil tampilan koran Luwuk Post dan triLO.

Paling tidak kerja Jurnalis patut dihargai. Bagi Abah, sebuah karya yang memuat tentang kritikan itu, adalah penghargaan untuk insan Jurnalis.

Dalam percakapan itu, ada pertanyaan menarik dari Redaksi, soal bagaimana pendapat beliau tentang  memanfaatkan teknologi _Artificial Intelligence_ (kecerdasan buatan), sebagai alat bantu dalam penulisan.

Seketika beliau terkejut, bingung iyah, hingga membuat dahinya mengernyit, Abah pun meminta penjelasan seperti apa kecanggihan yang diberikan oleh IA. Sebab ia mengaku belum pernah menggunakannya, bahkan baru mendengarkannya.

Abah tak menampik soal kecanggihan dunia teknologi saat ini. Maka ia menekankan dengan kata “Belum”. Untuk mencobanya, kata Abah, belum sama sekali. Lalu ia menegaskan kalau dirinya tetap menulis seperti biasanya.

Beliau memaklumi apabila hanya digunakan sebagai penyempurnaan ejaan (EYD), tapi tidak untuk merubah kualitasnya, apalagi sampai melenceng dari Kode Etik Jurnalis (KEJ).

Sebelumnya, Abah juga bercerita tentang kemajuan kota Luwuk, kata Abah: makin maju, cantik, terlebih pemandangan di Teluk Lalong. Beliau salut dijadikan pusat pelaku UMKM. Namun posisi tempat pelaku usaha perlu di tata dengan baik, agar tidak membelakangi pantai yang indah.

Posisinya, dibuat agar pantai terlihat sebagai pemandangan atau pusat utama. Dengan begitu, memberikan kesan sadar untuk menjaga kebersihannya. Laut bersih dan ekosistemnya tetap lestari.

Malam itu pertemuan terasa singkat, tetapi kehadiran Abah, seperti ayah yang baru saja pulang dari perantauan bertahun-tahun. Ia kembali untuk menengok serta memastikan kembali anak-anaknya tetap dalam kondisi dan harapan doa yang masih sama. ***

Komentar