LUWUK, LUWUK POST — Bendera merah putih harus berkibar di seluruh pelosok negeri. Apalagi di momen hari ulang tahun Republik Indonesia ke-75 ini. Itulah yang ada dalam benak Aipda Sainul.
Bhabinkamtibmas Polsek Batui itu pun membawa 25 bendera merah putih ke Dusun Tombiombong, Desa Maleo Jaya, Kecamatan Batui Selatan. Dusun Tombiombong dihuni Komunitas Adat Terpencil dari suku Loinang—salah satu suku yang ada di Kabupaten Banggai.
Tidak hanya disalurkan, 25 bendera yang dibawa Aipda Sainul dengan menempuh jarak hingga 35 kilometer—melewati jembatan gantung, menyebarang sungai hingga jalan terjal, itu, langsung dipasang lalu dikibarkan di depan rumah masing-masing.
“Bendera merah putih yang dibagikan tersebut sebanyak 25 untuk 25 KK di Dusun Tombiobong,” kata Kapolsek Batui Iptu IK Yoga Widata, Minggu (16/8). Masyarakat di Dusun Tombiombong adalah warga suku Loinang yang sudah tinggal menetap dan berpenghasilan masih relatif rendah.
Upaya Aipda Sainul itu bertujuan untuk memeriahkan momen HUT Republik Indonesia ke 75, serta meningkatkan dan menggelorakan semangat masyarakat dalam memaknai kemerdekaan. “Pembagian bendera merah putih ini dilakukan agar warga dapat meningkatkan cinta mereka terhadap tanah air Indonesia,” tuturnya.
Yoga menuturkan, pembagian bendera merah putih ini juga merupakan implementasi dari salah satu program prioritas Kapolri tentang membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap kamtibmas.
”Kami ingin menghadirikan negara di tengah-tengah masyarakat, agar mereka merasa aman dengan kehadiran Polri dalam kehidupan sehari-hari,” kata dia.
Sebelumnya, Komunitas Adat Terpencil di Dusun Mumpe, Desa Doda Bunta, Kecamatan Simpang Raya bersama unsur Forkopimcam setempat menancapkan bendera merah putih berukuran besar. Selebar 2 meter, sepanjang 6 meter. Sang saka merah putih ini membentang di sudut dusun yang berada di wilayah pegunungan tersebut.
Pengibaran bendera itu dilakukan bersama-sama, Rabu (12/8) lalu. Dengan melibatkan warga, aparat kepolisian, TNI, kejaksaan, pemerintah kecamatan dan desa setempat. Selain itu, aparat pemerintah juga membuka pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis serta penyerahan bantuan sosial.
Dusun Mumpe dihuni 234 jiwa atau 58 KK. Mereka adalah salah satu komunitas asli suku Saluan yang masih bertahan di pegunungan. Awalnya, mereka berasal dari Desa Baloa Doda, Kecamatan Pagimana lalu pindah ke Desa Doda Bunta sejak 2008 silam.
Menuju Dusun Mumpe, harus menempuh jarak sejauh 9 kilometer dari desa induk dengan berjalan kaki. Waktu yang ditempuh sekitar 2 jam. (awi)


![OL_AMIRUDIN TAMOREKA SILATURAHMI AT-FM DI BANGKEP: Bupati Rais D. Adam, Wakil Bupati Salim J. Tanasa, Ketua DPRD Rusdin Sinaling dan Sekreraris Daerah menyambut kedatangan ATFM di Bangkep, Senin (8/2/2021). [Foto: Rifan/Luwuk Post]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/OL_AMIRUDIN-TAMOREKA.jpg)
![ANUGERAH PWI PENGHARGAAN PWI: Bupati Banggai Herwin Yatim saat menerima Anugerah Kebudayaan PWI 2021 bersama 9 bupati/walikota pada puncak peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2021 di Jakarta, Selasa (9/2). [FOTO ISTIMEWA]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/ANUGERAH-PWI.jpeg)
![BNNP Sulteng PEMAPARAN TENTANG NARKOBA: Kepala BNNP Sulteng, Brigjen Pol. Monang Situmorang bersama Kapolres Banggai AKBP Satria Adrie Vibrianto saat menyambangi Mapolres Banggai, Selasa (9/2). [Foto: Istimewa]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/BNNP-Sulteng.jpeg)
