
Pernyataan itu sekaitan dengan partisipasi Untika Luwuk dalam mendukung pengembangan Taman Kehati Kokolomboi di Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep).
Dia mengaku, telah beberapa kali terlibat dalam berbagai tindakan penelitian mengenai Kehati. Diantaranya, di Sukabumi, Taman Nasional Lore Lindu, Gunung Tompotika serta kawasan hutan lainnya.
Dari pengalaman itu, dia menyadari, salah satu yang menjadi poin penting pengembangan Kehati adalah, tersosialisasinya hasil penelitian dalam bentuk jurnal melalui berbagai media digital. Baik melalui wabsite ataupun media internet lainnya guna memenuhi kebutuhan referensi edukasi masyarakat.
“Hasil penelitian yang dikonsumsi masyarakat dengan internet inilah secara tidak langsung berfungsi sebagai media edukasi sekaligus memenuhi unsur pengabdian kita pada masyarakat. Sehingga dengan sendirinya ketiga tuntutan Tridharma itu terintegrasi di dalamnya” kata dia, Jumat (11/9).
Mihwan menjelaskan, materi-materi perlindungan dan pelestarian Kehati lokal di seluruh perguruan tinggi, terutama di fakultas Pertanian dimasukkan dalam kurikum pembelajaran, yang secara otomatis merupakan produk terjemahan dari visi misi Universitas maupun fakultas.
“Misalkan pada poin kedua misi Fakultas Pertanian Untika. Di situ disebutkan, mewujudkan kualitas penelitian di bidang pertanian yang berorientasi pada pengembangan sumber daya lokal. Poin ini tentu sangat relevan dengan kegiatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulteng di Bangkep. Karena Taman Kehati Kokolomboi ini berorientasi pada upaya protektif terhadap potensi alam lokal yang ada di sana,” tuturnya.
Dengan demikian, lanjut Mihwan, dia mengharapkan perguruan tinggi bisa mencetak alumni kreatif dan inovatif untuk melindungi dan memanfaatkan sumber daya alam lokal berbasis kearifan lokal.
Tidak hanya itu, lanjutnya, alumni juga diharapkan mampu berperan maksimal di tengah kehidupan masyarakat untuk membangun lingkungan yang paham manfaat penting potensi lokal.
“Di dalam Fakultas Pertanian, ada mata kuliah namanya Kehati. Mata kuliah itu semuanya bicara tentang kekayaan alam Banggai, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut. Misalnya kalau kita bicara Burung Gagak Banggai. Kita tidak bisa hanya melihat seperti apa burung gagak itu, tapi bagaimana menjaga kelestarian lingkungannya tidak terganggu sehingga tidak membuatnya punah,” imbuhnya.
Kesimpulannya, perlindungan, pemanfaatan, dan pengembangan Kehati Kokolomboi sebagai salah satu aset penting Bangkep membutuhkan banyak pihak. Terlebih lagi perguruan tinggi yang senantiasa bersedia menyodorkan literatur yang dibutuhkan pegiat dan pemerhati lingkungan.
Taman Kehati Pertama di Sulteng
Keberadaan Taman Keanegaragaman Hayati (Kehati) Kokolomboi di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) perlahan mulai mendapat pengakuan banyak pihak. Nama Kokolomboi memang masih terdengar asing di telinga masyarakat.
Namun faktanya, taman yang berada di Kecamatan Buko ini menjadi satu-satunya kawasan konservasi pertama yang eksis di Sulteng.
Hal itu diungkapkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulteng saat menggelar “pelatihan identifikasi dan inventarisasi flora dan fauna dalam rangka penyusunan DED vegetasi KEE Taman Kehati Kokolomboi” di Bonua Caffe dan Resto Salakan, Rabu (9/9) kemarin.
BKSDA menyampaikan, sesungguhnya terdapat dua Taman Kehati di Sulteng. Yakni Taman Kehati Tadulako dan Kokolomboi. Namun, hanya Kokolomboi saja yang eksis.
“Ini sesuatu yang luar biasa. Maka sudah menjadi tugas kita bersama untuk menjaga, melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati dan folora Pulau Peling,” pesan BKSDA.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangkep Ferdy Salamat mengatakan, terdapat dua Kawasan Ekosistem Esensial (EKK) Peling yang telah teregis di Kemen-LHK, yaitu Taman Kehati Kokolomboi dan karst.
Ferdy menjelaskan, Bangkep tidak memiliki kawasan untuk itu. Namun dujungan kondisi dan kesempatan menjadikan karst dan Kokolomboi mendapat pengakuan pemerintah pusat sesuai pedoman pengelolaan dalam Perundang-undangan.
“Tentunya semua karena dukungan banyak pihak, organisasi lingkungan, sejumlah universitas, kelompok dan masyarakat,” katanya.
Diketahui, kegiatan itu dihadiri oleh Bupati Bangkep Rais D Adam, Kepala BKSDA Sulteng, pimpinan atau perwakilan OPD, perwakilan Kapolres dan Dandim 1308/LB, perkumpulan Salanggar, organisasi adat, pengelola Taman Kehati Kokolomboi, Pers, Kades Bulagi II, Leme-leme Darat dan Camat Buko.
Sedangkan pemateri diisi oleh staf BKSDA, Ferdy Salamat dan Dosen Fakuktas Pertanian Universitas Tompotika Luwuk Mihwan Sataral. Mihwan menyampaikan korelasi antara pertanian dengan Kehati melalui jalur pendidikan.(Imam)

