
Termasuk Gubernur Longki Djanggola ketika berkunjung ke Banggai dan singgah sebentar di Taman Kota. “Pak gubernur kemarin bilang, Wen (Wenny, Red) kenapa kamu bongkar lagi itu Anjungan? Saya bilang pak gub Anjungan model begitu alun-alun kecamatan, bukan di ibukota kabupaten,” katanya di Kecamatan Labobo, pekan lalu. “Pak gub geleng-geleng kepala,” imbuhnya.
Menurut Wenny, membangun tidak hanya untuk 2 atau 5 tahun ke depan, tetapi harus jangka panjang. Bahkan, hingga 50 tahun ke depan. “Supaya apa? Kita bisa meewariskan untuk anak-anak dan keturunan kita ini sesuatu yang sempurna,” ujar dia.
Para pendahulu di daerah, ujar dia, tidak menyangka jika Banggai akan menjadi sebuah ibukota kabupaten. Karena itu, penataan pembangunan harus berorientasi jangka panjang. “Mereka akan kaget, mereka tidak bayangkan kalau Banggai akan jadi ibukota kabupaten,” tuturnya.
Kemajuan teknologi, kata dia, membuka akses yang sangat luas untuk melihat penataan kota-kota di dunia. “Kita Cuma terkagum-kagum, tidak merencanakan bagaimana dengan daerah kita sendiri,” pungkasnya.
Terkait dengan pemerataan pembangunan, ia sengaja mengajak Gubernur Longki Djanggola ke Kecamatan Labobo. Hal itu untuk menunjukkan bahwa tak ada kesenjangan dalam pembangunan.
“Itu dimulai dari luar Pulau Banggai sejak saya menjabat sebagai bupati devenitif pertama. Sekarang kita membangun dalam Pulau Banggai, di luar Pulau Banggai tidak protes,” katanya.
Pantauan Harian Luwuk Post, saat ini di Pelabuhan Mansalean sedang dibangun dermaga dengan nilai proyek miliaran rupiah dari Kementerian Perhubungan. Dermaga itu dapat disinggahi kapal laut yang melayani rute Banggai Laut-Luwuk. Selain itu, dari Desa Mansalean menuju Desa Alasan, Lipulalongo, dan Lalong telah memiliki akses jalan beraspal.
Tak seperti dulu hanya berupa hamparan material. Listrik juga telah menyala 12 jam, tersisa Desa Lipu Talas dan Bontosi. “Mengutip mantan anggota DPRD Banggai Laut, masyarakat kita itu butuh air, listrik, dan jalan, yang disingkat AJAL,” katanya. (ali)
