Lukisan Tokoh untuk Dikenang
Ia berteman sunyi, di bilik seukuran kamar tidur. Sebuah ruang yang tidak terlalu luas. Di ruang tanpa jendela itu, lukisan-lukisan digantung, sebagian lain teronggok tak beraturan. Sekilas, seperti ruang pamer yang belum siap.
—–
SAYA mengabaikan ruangan itu ketika menuju toilet. Sekembalinya, ternyata sosok yang berada di ruangan ini sedang memegang kuas, mencoret-corat kanvas gambar. Tanpa suara.
Kesunyian itu berbuah gambar yang hidup. Tersenyum lebar. Perpaduan kuas, kanvas, dan sepi, menghasilkan lukisan seorang pengusaha yang kini terjun ke dunia politik, dan maju menjadi kandidat Bupati Banggai. Belakangan, sosok dalam lukisan itu, mendapatkan nomor urut dua.
Mas Fatur—begitu saya memanggilnya—tengah memainkan kuas pada kanvas yang semula hanya berwarna hitam. Ia melukis hanya karena mood bagus, dan tidak sedang terlalu sibuk.
Pagi hari saat mood melukis datang, ia bangun dan duduk ngopi sambil memainkan kuas. Di siang hari, kanvas di depannya sudah menampakkan hasilnya.
Ia mengaku, suka menggambar tokoh-tokoh. Bermodal dengan melihat foto mereka.
Beberapa yang sudah dilukisnya, antara lain Bali Mang—sapaan karib mantan Ketua DPRD Banggai—atau Samsul Bahri Mang, Bupati Banggai, Herwin Yatim, Dandim 1308 Luwuk Banggai, Danrem, Kejari Banggai, Masnur, Kepala Pengadilan Negeri Luwuk, (Mantan) Kapolres Banggai, AKBP Moch Sholeh, dan tokoh-tokoh lainnya.
Kebanyakan yang dilukisnya bukan pesanan dari tokoh yang digambarnya. Seperti gambar Amirudin Tamoreka yang tengah dilukisnya itu.
Fatur bercerita, ia tertarik melukis tokoh yang tidak memesan lukisan, rata-rata setelah melihat fotonya di baliho. Ia tertarik melukisnya, karena belakangan tokoh tersebut namanya makin ramai didengungkan. Mas Fatur juga jujur, itu merupakan tokoh yang dikaguminya.
“Kalau selesai dilukis nanti, saya kirim kepada beliau,” katanya, pekan ketiga bulan lalu.
Sama seperti saat melukis Herwin Yatim. Ia melukis Herwin Yatim saat mendapatkan tongkat komando, sehingga dilukislah Bupati Banggai itu lengkap dengan PDU (pakaian dinas upacara) dan memegang tongkat komando. “Saya melukisnya, karena tahu lukisan itu akan dipajang. Akan dikenang saat, saya tidak lagi berada di Kota Luwuk,” tutur pemuda Jawa, yang lahir dan besar di Bunta ini.
Fatur memiliki talenta melukis. Ia pernah belajar di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, selama setahun. Sebelum akhirnya keluar.
Sebagai pelukis, ia mengaku beraliran bebas. Ia melukis apa saja, tokoh, alam, destinasi wisata, kuliner, pohon kelapa, jagung dan lain-lain.
Berapa harganya? Ia tak ingin berbicara harga, selesai dilukis biasanya dikirimkan langsung ke orang yang dilukisnya. Lukisan bagi dia, sebenarnya lebih ke soal mahar (nilai).
“Nilai nominal bukan patokan bagi saya. Kalau tokoh, figur, yang diinginkan dan mahluk hidup tidak boleh terlalu diagungkan, diistimewakan. Dilarang juga oleh orang-orang tua. Jadi sedapat mungkin harus ada nilai, sudah dikasih mahar, artinya bukan milik saya lagi,” ujarnya.
Lukisan, kata dia, tak boleh diagungkan, karena apa pun yang dilukis tidak akan sama dengan mahluk ciptaan Tuhan. “Jadi bukan untuk menyamai Tuhan. Hanya sekadar cenderamata untuk diingat,” katanya.
Ia mengaku, harga nilainya paling murah, mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Nilainya ada di kisaran, Rp 100, Rp 10 juta, Rp 15 juta, dan Rp 8 juta untuk lukisan air terjun Salodik.

Fatur melukis di ruangan kandang kreatif Kafe Dg Mangge Premium. Ia memang banyak mengoleksi benda seni, seperti souvenir kerajinan tangan yang dipajang di ruangan tersebut.
Soal ide kandang kreatif itu, ia ingin memiliki tempat untuk pameran, yang bisa dilihat orang. Kedai kopi menjadi tempat strategis, karena orang-orang datang dan pergi. “Setiap hari ada yang melihat ruangan ini,” katanya.
Pengunjung kedai kopi sendiri sekira 200 orang per hari. Sejak diresmikan 7 Juli 2020, kedai kopi itu selalu ramai dikunjungi. Terutama pada akhir pekan atau malam minggu.
Selepas menjabat sebagai General Manager Dg Mangge Premium, Mas Fatur—sapaan akrab Fatur Hidayat—mengaku memiliki waktu lebih banyak untuk melukis.
Ia selalu memberi tanda untuk dikenang, menuliskan namanya di objek lukisan, sebelum lukisan itu dikirimkan kepada tokoh yang dilukisnya. (ris)
