SALAKAN, LUWUK POST—Produksi pertanian di Banggai Kepulauan (Bangkep) mengalami penurunan angka produktivitas tahun ini. Hal itu dinyatakan langsung Kepala Dinas Pertanian (Distan) Bangkep, Raden Bambang, bersama Kepala Seksi (Kasi) Produksi tanaman Pangan dan Hortikultura, Hendra Mangais, Senin (21/12/2020).
Ditemui di ruang kerja kepala dinas, Hendra, menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya produksi hasil pertanian tahun ini. Salah satunya, pandemi Covid-19 yang membatasi petani untuk berkumpul dan keluar rumah.
Selain pandemi Covid-19, Hendra mengungkapkan, tanaman pertanian warga terserang hama wereng. Kondisi itu bahkan sempat berakibat pada gagal panen (Puso) hasil pertanian masyarakat. Sehingga produktivitas sangat rendah.
“Serangan hama wereng yang cukup ganas itu, mengakibatkan produktivitas pertanian sangat rendah di Bangkep. Bahkan ada yang gagal panen,” ungkapnya.
Dia juga menjelaskan, rata-rata petani di Bangkep memiliki pekerjaan sampingan yang hasilnya dimanfaatkan sebagai modal untuk membuka lahan baru. Ketika pendapatan sampingan itu berkurang, otomatis mereka kekurangan modal untuk membeli benih.
“Kalau sudah seperti itu, terpaksa mereka menanam benih yang sudah lama, yang potensi produktivitasnya rendah. Jadi kalau diharapkan beratnya 3,5 ton per hektar, itu beratnya tinggal 1,6 ton sampai 1,9 ton per hektar,” sebut Hendra.
Ditambahkan Raden, pola pikir petani di Bangkep masih agak tradisional. Sebagian besarnya masih bergantung pada bantuan pemerintah. Terutama dalam pengadaan benih baru yang lebih produktif dan berkualitas.
“Mereka (petani) seolah berat mengeluarkan sedikit uang untuk membeli benih baru. Sehingga yang ditanam hanya benih lama yang tidak produktif lagi,” jelasnya.
Olehnya itu, menurut dia, butuh waktu lama untuk mengubah pola pikir petani di Bangkep.
Meski demikian, dia juga mengakui dalam beberapa tahun terakhir, sudah banyak petani yang mengubah metode pertaniannya ke metode yang lebih modern dalam mengolah pertaniannya. Pihaknya pun terus melakukan pendampingan.
“Indikatornya terletak penerapan pupuk yang mulai dari tiga tahun terakhir ini sudah mulai ada peningkatan. Dulu itu kita nol. Karena kalau dibantu pupuk. Pupuknya hanya dijual,” ujar Raden.
Bahkan, kata dia, sebagian petani bertahan pada prinsip tradisional, dengan mengatakan bahwa tanpa pupuk pun tanamannya tetap tumbuh. Tapi, sambungnya, saat ini sudah terjadi pergeseran dari petani tua ke petani muda yang sedikit lebih modern.
Di Bangkep, menurut dia, tidak ada petani pembanding. Sehingga metode pertanian yang selama ini diterapkan, sudah dianggap benar. Padahal petani Bangkep membutuhkan petani pembanding, untuk menilai perbedaan produktivitas pertaniannya.
“Dulu saya sempat tawarkan kawasan transmigrasi, tapi itu ditolak warga. Mereka kasih tapi di kawasan tidak layak. Sehingga dibatalkan,” tutur dia.
Meski demikian, tahun depan pihaknya akan terus melakukan pendampingan yang lebih fokus pada praktik-praktik langsung, bukan acara seremonial. Sehingga petani lebih cepat paham. (tr-01)


