Oleh: Ama Achmad
(Penulis dan Pegiat Literasi)
Barangkali, setiap kita mencatat atau mengakrabi beberapa kata saban tahun. Kata-kata itu lahir dari kondisi diri dan situasi sosial, kita mengadaptasinya dengan lekas. Kata, atau lebih jauh lagi bahasa, menyisip di semua aspek hidup, akrab dengan ujar dan terampil dibunyikan.
Hidup selalu memperkenalkan kita pada kata-kata baru. Beberapa sudah ada, beberapa lainnya baru saja lahir. Ada banyak kata yang akhirnya kita lafalkan dengan luwes, lurus menjangkau telinga siapa pun.
Bagi saya, menandai kata-kata di akhir tahun menjadi semacam refleksi. Bukan menghitung pencapaian, penundaan dan kemunduran, tetapi sebagai upaya menemukan diri sendiri di antara kata-kata yang ramai. Terutama tahun ini, saat harapan-harapan tidak sesuai grafik yang kita rancang sendiri, dan rencana-rencana terpaksa berbelok atau tertunda.
*
Di akhir tahun kemarin, virus dan korona adalah dua kata yang singgah di telinga semua orang. Dua kata ini menjadi semacam pembuka pintu bagi banyak kata lain—baru dan lama—yang populer di tahun ini.
Oxford University Pers memetakan kata-kata ini ke dalam beberapa kategori, yakni Covid-19, teknologi dan kerja jarak jauh, solidaritas sosial (yang mencakup media sosial dan politik), dan lingkungan. Sementara itu, situs Merriam-Webster mencatat bahwa penelusuran kata “pandemi” meningkat 100.000 persen. Saya dan kamu, menjadi bagian dari peningkatan itu. Di masa-masa itu, saya berselancar di internet mencari tahu pandemi sepanjang sejarah manusia, dan membaca artikel-artikel yang menulis tentang perkembangan pandemi di seluruh dunia, berenang dalam pusaran berita yang benar dan keliru.
Pandemi, kata ini tidak sekadar arti yang tercatat dalam KBBI, “wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas”. Ia menjadi kata yang menggandeng banyak makna. Ketika menyebut pandemi, ada semacam lintasan kata yang berjalan di kepala kita, mulai dari masker, APD, terkonfirmasi positif, kontak erat, WFH, jaga jarak, rapat virtual, belajar daring, cuci tangan, tes cepat, PCR, swab, zoom, hand sanitizer, vaksin, data, imun tubuh, delirium, cemas, takut, lockdown atau kuncitara, adaptasi kebiasaan baru, dan banyak lagi.
Ada berapa banyak zoom meeting atau rapat virtual yang Anda lakukan tahun ini, ketika akses menjadi sempit dan kaki-kaki tertahan di kursi masing-masing? Saya tidak menghitung berapa jumlahnya. Namun, saya ingat kerepotan-kerepotan awal ketika pandemi mengunci pergerakan semua orang. Saya masih ingat, bagaimana guru-guru senior sedikit panik dihadapkan dengan teknologi, bingung dengan cara mengoperasikan aplikasi tatap muka yang membebaskan masker dari wajah, dan skeptis dengan keefektifan belajar atau rapat dengan medium baru ini. Ingatan itu tidak hanya menerbitkan tawa, tetapi juga kesadaran bahwa manusia pandai menyiasati keterbatasan. Mencari titik yang mampu mengecilkan jarak, dan “merapatkan” meja-meja kerja di mana pun berada.
Saya dan kamu, kita semua perlu berterima kasih pada teknologi. Rapat-rapat virtual yang menggunakan aplikasi dengan kemampuan memintas jarak itu, menyelesaikan banyak persoalan. Jabat tangan, ruang tunggu, pelukan, coffee break, istirahat makan siang, dan foto bersama, menjadi peristiwa lama yang memiliki pengertian baru. Kita benar-benar menggunakan lisan dan tulisan untuk setiap gerakan lazim dalam sebuah pertemuan atau kegiatan normal. Mengganti jabat tangan dengan emoji, atau menyebutnya “salaman virtual”. Atau contoh lain, kata “sekolah” yang mengalami penambahan menjadi “sekolah online atau daring”. Kata baru terbentuk dan mengalami penambahan kata lain, ditarik dari situasi atau perkembangan yang terjadi.
Sudah berapa lama kamu memakai masker saat di luar rumah atau bertemu orang, atau sudah berapa lama tidurmu nyenyak tanpa mimpi buruk? Tahun ini barangkali menjadi puncak tertinggi kecemasan. Seolah tidak cukup bayangan buruk tentang gagang pintu dan meja kafe penuh virus, kita masih harus waswas dengan kondisi negeri dan merasa wajib ada dalam arus solidaritas sosial. Fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang berpikir dan memiliki “nurani” benar-benar diuji di masa ini. Menjadi sehat, mematuhi imbauan pemerintah, bukan hanya sekadar kepentingan pribadi, tetapi kewajiban mutlak yang imbasnya langsung menyentuh orang lain. Sehat di masa sekarang seperti cermin; atau dengan kata lain, “saya sehat terlindungi, orang lain juga sebaliknya”.
Tidak pernah terbayangkan tahun ini, memberikan pengalaman baru yang sungguh berbeda. Seluruh manusia berada dalam laut yang sama, ombak yang sama, tetapi dengan perahu yang berbeda. Setiap kita memiliki bioskop di kepala yang merekam seluruh jejak, sejak pertama virus ini menggerogoti bumi, dari lokasi terpanas hingga titik terdingin—ingatan kolektif terbesar dalam sejarah dunia.
Setelah kata-kata yang saya sebutkan di atas, yang dengan cepat memiliki padanan dalam bahasa Indonesia, Oxford juga memasukkan satu kata lain, “anthropause”. Kata yang ditarik dari kondisi penurunan polusi cahaya dan suara, yang disebabkan oleh perlambatan global dan aktivitas manusia. Bagi saya, anthropause bukan hanya perlambatan global. Ia lebih pada situasi yang mengajarkan kita menahan diri, memberi jeda pada hiruk pikuk, dan (mungkin) merenungi waktu ini; menikmati kini dengan pelan-pelan, takperlu berlari untuk keinginan-keinginan.
Kado untuk ketabahan itu bernama vaksin. Para ilmuwan, memberi kabar baik untuk mimpi buruk yang menghantui sepanjang tahun. Meski proses itu memakan waktu cukup lama, dan harus melewati tahapan-tahapan pengujian sebelum sampai dengan sempurna–disuntikkan di lengan kananmu—tetapi kabar baik ini membuat harapan sedikit merekah.
Tidak hanya itu, kabar terbaru dari para ilmuwan UGM tentang alat ciptaan mereka, juga cukup memberi kelegaan. Alat bernama GeNose pendeteksi virus korona, telah menerima izin edar dari Kementerian Kesehatan. Harga sekali tes hanya Rp.25 ribu saja. Cukup murah dari harga sepaket es kopi dan roti bakar di kafe nyaman nan estetis di dekat rumahmu.
*
Saya teringat, bagian akhir dari salah satu esai Arundhati Roy, novelis dan aktivis di India, bahwa pandemi adalah sebuah portal atau pintu gerbang menuju dunia yang baru, dan kita dihadapkan dengan pilihan untuk berjalan dengan enteng tanpa membawa ide-ide lawas dan ingatan masa lalu, atau sebaliknya.
Sederhana saja, semuanya bermula dari sebuah kata, dan kita hanya perlu meyakininya. Satu hari lagi tahun berganti, ada dua pertanyaan untuk kalian. Apa kalimat harapan untuk tahun depan, dan kata-kata apa yang hendak kau tinggalkan di ujung penanggalan tahun ini? (*)
