Lanau yang Hilang di Pantai Tanjung Sari

Luwukpost.id -

Karya, Lady Diana Khartiono

 

Seumur hidupku, sejak aku mulai mengenal dan menyimpan ingatan demi ingatan, aku telah tinggal di depan laut Tanjung Sari. Meskipun telah mengenal laut, bau laut dan pasir putih sejak masih kecil, aku masih selalu terpesona saat melihat laut.

Laut selalu bisa menghipnotisku, menggetarkan hatiku, membawa kepada kenangan kenangan indah yang pernah ku goreskan di sepanjang garis pantai. Laut telah menyaksikan bagaimana aku bertumbuh dan menjadi diriku yang sekarang, turut mengantarkanku mencapai mimpi-mimpi besar dalam anganku. Laut, dengan semua misteri yang ada di dalamnya adalah benar-benar sebuah alam berbeda yang paling dekat dengan alam manusia. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam sana, meski sangat dekat dengan kita.

Akhir-akhir ini, aku mencoba mengingat sahabat lamaku. Sepertinya aku punya teman bermain khayalan yang tinggal di dalam laut depan rumahku. Entah bagaimana sosoknya dulu, yang paling kuingat adalah dia  suka bercerita, tubuhnya kira-kira sekecil aku dulu. Jenis kelaminnya perempuan atau laki-laki aku tidak ingat (rasanya saat itu tidak begitu penting). Sepertinya rumahnya adalah barisan karang yang mulai membatu, berjejer rapi melengkung membentuk huruf U di bagian pesisir pantai yang selalu terendam penuh saat air laut pasang.

Dulu, sekitar 25 tahun lalu, aku biasa berjalan telanjang kaki menyusuri garis pantai Tanjung Sari. Kadang bersama sepupuku, adik perempuanku, kadang juga beberapa teman di kompleks dan bila tidak seorangpun sedang punya waktu: aku akan berjalan bersama teman khayalanku, berbincang dengannya, tertawa terbahak-bahak lalu takut orang-orang akan menganggapku aneh dan mungkin menakutkan. Bagaimanapun, teman khayalanku itu terlalu lucu dan cerewet untuk tidak aku ladeni. Kami biasanya mencari kerang, batu-batuan yang cantik dan bila beruntung bisa mendapatkan kuku keramik yang sempurna, tanpa cacat sedikitpun.

Aku ingat, di depan rumahku hanya perlu menyeberang jalan kecil dan menuruni tebing pantai sekitar 1,5 meter untuk turun ke pantai menuju laut. Bila berjalan di sepanjang pesisir pantai dari depan rumahku, sekitar 100 meter kedepan kita akan menemukan pohon ketapang besar, daunnya sangat lebat dengan ranting kokoh yang menjulang dan melengkung. Salah satu ujung rantingnya hampir mencapai dasar pasir, terlihat seperti membungkuk,tempat menyembunyikan bocah-bocah yang ketakutan mendengar suara teriakan ibunya ketika memaksa naik dari laut.

Di bawah pohon itu, terdapat pasir putih paling indah yang pernah kulihat. Pasir itu berwarna seputih salju, sangat halus dan lembut. Butiran pasir ini disebut Lanau.

Aku sering membenamkan kakiku berlama lama sambil membayangkan bagaimana lanau ini terbentuk di sini. Mungkin kerikil itu dimakan oleh beberapa jenis kerang-kerangan, kemudian dikeluarkan lagi melalui pembuangan sisa makanan menjadi butiran yang lebih halus, atau mungkin pada malam hari ketika semua orang tidak melewati tempat itu, para putri duyung keluar dan bermain di bawah pohon itu, membawa butiran-butiran pasir halus dari laut dalam, kemudian meninggalkannya di bawah pohon ketapang itu sebagai penanda tempat kembali.

Baru setelah dewasa kupahami, pasir terbentuk dari pelapukan fisik dan kimia pada batuan, dimana kelembaban lingkungan dan kandungan mineralnya mempengaruhi ukuran dan warna pasir. Semakin halus pasir itu, semakin keras pembentukan yang dialaminya.

Namun sekarang pohon ketapang besar itu tidak ada lagi, bahkan lanau itu hilang entah kemana. Suara deburan ombak yang syahdu berdesir di bibir pantai berubah menjadi hempasan keras di tepi tembok. Jalan di depan rumahku telah berubah, kini terdapat dua jalur jalan, di tengahnya terdapat taman, tiang tiang listrik dan lampu jalan yang menerangi sepanjang bahu jalan.

Tebing kecil akses menuju pantai telah hilang berganti trotoar lebar sepanjang pantai. Tidak ada lagi jalan menuju pantai depan rumahku, barisan karang berbentuk huruf U itu kini sangat dekat dengan tebing trotoar yang tinggi, di huni oleh sampah dan pecahan batu kasar akibat hempasan ombak pada pemecah ombak, tidak lagi layak di huni oleh si teman khayalan, mungkin itulah sebabnya dia tidak pernah muncul lagi di depanku.

Pantainya bahkan hilang lebih dari setengah tertutup tebing trotoar. Tempat itu tidak lagi di ramaikan oleh sorak sorai anak-anak bermain air dan teriakan ibu dengan kayu panjang di tangannya. Berganti aktivitas muda mudi bercerita, mobil parkir beristrahat di siang yang terik, jajanan-jajanan sore dan beberapa orang berlari maupun bersepeda, olahraga pada sore hari.

Ketika malam semakin larut, nampak beberapa muda mudi maupun orang dewasa melakukan aktivitas lain seperti minum minuman keras dan transaksi prostitusi. Dari gadis berumur belasan tahun hingga perempuan separuh baya juga para waria yang terlihat gelisah menanti mobil yang singgah, di tengah dinginnya angin malam. Bunyi sirine patroli dan pandangan jijik masyarakat tidak mengubah perilaku mereka, rupanya hidup semakin sulit sekarang.

Kota kecilku telah bertumbuh menjadi kota yang semakin besar, menghilangkan banyak keasrian dan kenangan masa kecil kami (juga rumah teman lamaku). Aku masih tinggal di depan laut Tanjung Sari dan terkadang masihmendengar decakan kagum orang-orang yang berdatangan di pantai Tanjung Sari, aku tersenyum, tahukah kamu dulu pantai ini jauh lebih indah? (*)