
Karya, Lady Diana Khartiono
Meskipun aku sudah berusaha menahannya, rasa sakit ini tidak mau mengalah. Berkali-kali, aku hampir meledak. Tubuhku terlalu kecil, tidak mampu menampung isi diriku, jadi aku perlu meremukkan seluruh isi diriku lalu mengisinya kembali ke dalam tubuhku meskipun rasanya sakit sekali “Eun Jung dalam Be Melodramatic”
Masni adalah seorang perempuan asal Banggai yang berumur 26 tahun, wajahnya manis, kalau dia tersenyum lesung pipit di pipi bersihnya tampak ikut tersenyum.
Rambutnya hitam sebahu, lebih sering diikat asal-asal ke belakang, menjatuhkan beberapa helai rambut di samping telinganya. Beberapa kulitnya berwarna coklat, bagian-bagian yang sering terpapar matahari, sekali kali saat bajunya sedikit tersingkap, bagian yang lebih putih akan terlihat, meski Masni tidak secantik wanita dalam drama Korea.
Sayangnya Masni adalah seorang janda muda, ditinggal mati sang suami saat anak mereka berumur 1 tahun oleh penyakit Malaria. Entah kenapa tubuh suaminya tidak mampu menahan penyakit umat tropis itu, mungkin karena kelelahan bekerja atau tidak ada biaya berobat.
Tidak ada yang pernah bertanya sampai disitu, Masni orangnya pendiam atau lebih tepatnya pemurung. Dia hanya tersenyum atau tertawa bila nyonya rumah memberinya pujian.
Sejak suaminya meninggal dunia 2 tahun lalu, Masni merantau kerja kemana-mana, dan terakhir ke Jakarta.Bersama anak semata wayangnya yang kini telah berumur 3 tahun, Masni tinggal di rumah bertingkat paling ujung lorong Tapekong, Kebayoran Lama.
Tuan dan Nyonya rumah itu adalah orang-orang sibuk yang kerja dari pagi hingga malam, itu membuat Masni betah karena bisa berlama-lama bermain dengan anaknya setelah pekerjaan selesai. Duduk di teras rumah sambil membacakan buku cerita untuk anaknya atau jalan-jalan ke pasar sekedar membelikan anaknya tahu goreng.
Masni orangnya tabah, di beberapa belokan menuju pasar, para lelaki jalanan sering menggodanya. Ada yang bersiul-siul, pura-pura tanya jam berapa sekarang, bahkan yang terang-terangan memanggil namanya. Di desa, bila kau berjalan kaki dan ada beberapa lelaki memanggilmu, itu artinya kamu adalah kembang desa, sesuatu yang cukup membanggakan, tapi di kota beda. Itu namanya pelecehan.
Tindakan menyebalkan yang rasanya sampai ingin meludahi kaum lelaki porno itu.Jika lelaki itu begitu menyukaimu, dia akan datang, kenalan dan minta nomor teleponmu. Sesederhana itu. Kecuali jika dia rendah diri, dia hanya akan menatapmu dari kejauhan, bahkan tidak berani bersiul jadi jelas menggoda di jalan itu ciri-ciri lelaki brengsek. Suatu hari, Masni betul-betul melemparkan jajanan tahu goreng ke muka salah satu lelaki jalanan itu.
Sejak itu, teman-teman sesama PRT makin sering mengamati Masni. Mereka bahkan mulai hapal beberapa kebiasaannya, merasa seperti lebih mengenalnya, bukan hanya Masni yang seorang janda, anak satu, pembantu rumah tangga yang berasal dari Banggai dan pemurung. Tapi beberapa bagian dirinya mulai terlihat. Masni seperti orang yang bersembunyi dari cahaya, tidak menyukai siang hari tapi juga membenci romantisme bulan pada malam hari. Dia menjalani hari bukan dengan melewatinya, melainkan membiarkan hari yang melewatinya. Bila keadaan terasa terlalu berat, Masni bersembunyi di balik bau anak laki-lakinya, menghirupnya dalam-dalam kemudian mengeluarkan hembusan perlahan-lahan bersama bau luka dari dalam hatinya. Dua tahun belum cukup baginya untuk mencari jalan menuju pemulihan, tapi karena hidup harus terus berjalan, maka dia membiarkannya berjalan.
Saking seringnya para PRT di kompleks itu memperhatikan si Masni, beberapa diantaranya mencari-cari namanya di Facebook. Masni, Masni asal Banggai, Masni Banggai, dan seterusnya sampai ada yang menemukannya dengan petunjuk foto profil anaknya. Masni Sarina. Kini kita boleh percaya facebooklah yang paling merakyat, seperti Pancasila kelima: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Nur salah satu yang paling penasaran dari sekian banyak PRT kompleks yang suka menggosipkan Masni. Sejak kenalan dua bulan lalu sebagai sesama PRT di kompleks, Nur bahkan tidak pernah mendengar Masni bercerita tentang kisah hidupnya, kecuali ada yang bertanya, itupun jawaban singkat yang membuat percakapan berhenti.
Si Nur menelusuri foto-foto Masni dan setiap unggahannya. Tahun belakangan ini Masni jarang posting sesuatu, palingan hanya membagikan beberapa konten agama atau kesehatan. Terus turun ke bawah di riwayat tahun-tahun sebelumnya, hasil selancar mulai menemukan unggahan bersama suaminya.
Nur melihat dengan teliti, setiap foto, postingan, komentar yang ada. Masni adalah wanita yang sangat dicintai suaminya. Foto-foto Masni dan suaminya begitu hidup, penuh cerita. Masni adalah perempuan yang dulu pernah bahagia dan memiliki pelindung.
Rasa sedih mulai menyelimuti Nur. Nur menutup mata, tiba-tiba dia membandingkan dengan dirinya. Bayangan kekerasan rumah tangga yang dialaminya kembali melintas, tamparan dan makian adalah makanan sehari-harinya.
Satu waktu, suami yang telah diberinya 2 anak, menginjak perut dan mematahkan tulang rusuknya. 3 minggu di rumah sakit, Nur bungkam, tidak ingin ayah anak-anaknya ditangkap polisi. Nur Kemudian memilih lari menyeberang dari pelabuhan Bakauheni Lampung ke Jakarta, meninggalkan anak-anak dan suaminya. Anak-anak memiliki nenek yang akan merawat mereka, nenek yang membenarkan kelakuan kasar anak lelakinya, pikir pendek Nur saat itu.
Bagi Nur, dia dan Masni Adalah orang biasa diantara sekian banyak orang biasa lainnya, yang punya nyawa, hidup, kisah dan suara tapi sering mereka tutupi ketika bekerja di bawah atap rumah orang lain. Seperti Masni, setiap orang memiliki luka dalam hatinya, baik itu karena bertemu orang yang salah atau tanpa sadar menginjak paku-paku kehidupan.
Mereka yang datang merantau untuk bekerja menjadi pembantu rumah tangga, menyimpan erat-erat luka itu, sehingga bau busuknya tidak akan tercium pemilik rumah yang menginginkan kenyamanan. Mereka hanya berdoa, semoga kemalangan tidak mengikuti mereka di tempat baru. (*)
