
Karya, Try Mayang Tunekon
Aku baru saja pulang setelah seharian pergi mencari pekerjaan. Itu yang aku lakukan satu bulan terakhir ini. Setelah menghilangnya suamiku tiga bulan yang lalu, hidupku terasa lebih berat. Pergi jam enam pagi dan pulang jam tujuh malam. Namun pekerjaan tak kunjung aku dapatkan. Hari ini aku pulang lebih terlambat dari biasanya karena tes wawancara di salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar baru saja selesai.
Aku menaiki tangga perlahan, melirik jam tangan tepat Pukul 21.00 WIB. Hari yang sangat melelahkan. Aku buka pintu rumah, masuk ke ruang tengah. Kudapati anakku sedang duduk di sofa sambil memeluk erat boneka beruangnya. Ia diam dengan tatapan kosong memandang lurus kedepan, wajahnya juga terlihat sangat pucat. Aku coba menghampiri.
“Rara kok jam begini belum tidur?” tanyaku pelan.
“Nenek sudah pulang?” Sambil memandangi wajah rara yang pucat.
Anak perempuanku satu-satunya Rara berusia 8 tahun, memang tipe anak yang pendiam.
“Rara sayang kenapa jam begini belum berangkat tidur nak? Boneka dolphinnya mana? tumben nggak dipeluk juga” tanyaku lagi.
Rara hanya diam. Mungkin ia marah karena hari ini aku pulang terlambat tanpa memberinya kabar melalui ibu mertuaku yang tinggal di ujung kompleks.
“Mama jahat” jawab Rara masih dengan wajah datarnya.
“Mama minta maaf, mama sibuk, lupa menelpon nenek.”
Rara kembali mematung.
“Rara takut” jawabnya pelan.
“Takut kenapa?”
“Rara takut, teman Rara mau merampas boneka beruang Rara.”
“Teman Rara Siapa?” tanyaku penasaran.
Rara mematung.
“Teman Rara ada dimana?” aku mulai sedikit khawatir. Rara tak seperti biasanya.
“Disana, bersembunyi di lemari” sambil menunjuk ke arah kamar tidurnya.
Aku berjalan menuju kamar tidur. Ku buka pintu kamar Rara pelan-pelan dan membuka pintu lemari. Seketika aku terperanjat. Rara dengan yang ketakutan dan nafas tersengal-sengal berkeringat melihat ke arahku.
“Rara !!!” suaraku meninggi.
“Kamu ngapain disini?” aku bingung, panik.
“Ma, tolong Rara ma, Rara takut, dia mau mengambil boneka dolphin Rara.”
“Cepat, cepat keluar kamu dari lemari ini” badanku terasa dingin, tanganku lemas.
Ada apa ini? Lalu siapa yang duduk di sofa tadi? Pikiranku mulai kacau. Aku langsung berlari ke ruang tengah. Aku dapati Rara satunya masih duduk memeluk erat boneka beruang.
“Kamu siapa?” suaraku bergetar.
Ia hanya diam memandangku.
“Kamu siapa?” suaraku semakin meninggi.
“Aku Rara ma.”
“Bukan. Pasti kamu bukan Rara!” aku membentak, suaraku serak
“Pergi kamu dari sini!”
“Aku Rara ma” jawabnya.
“Pergi… pergi kamu dari sini!” suaraku melengking
Aku berlari kembali masuk ke kamar Rara. Aku melihat sekeliling, Rara tidak ada. Ku buka pintu lemari, juga tidak ada.
“Rara… !!!” aku berteriak sangat keras.
“Ma, Rara disini ma” terdengar suara Rara dari luar kamar.
Aku ke luar kamar. Rara dan Rara satunya duduk bersama masing-masing memeluk boneka. Mengapa Rara sudah ada disini? Kapan ia keluar kamar? Tubuhku bergetar, keringat dingin bercucuran.
“Ka, kalian berdua pasti bukan Rara. Mana anakku Rara? Kalian sembunyi dimana dia? Katakan!” aku terbata-bata.
Mereka hanya diam menatapku tajam tanpa senyum.
“Rara….” suaraku melengking hebat.
Aku berlari keluar menuruni anak tangga belakang rumah. Tak sengaja menginjak sebuah anak tangga yang rapuh. Aku terperosok, pingsan.
“Terimakasih dok,” terdengar suara sayup-sayup.
“Jika memerlukan bantuan lagi, ibu bisa menghubungi saya.”
“Iya dok, terimakasih.”
Mataku masih berat untuk dibuka. Samar-samar aku lihat seorang wanita mendekati dan mengusap kepalaku. Aku langsung membuka mata.
“Kau sudah sadar?”
Badanku masih lemas. Ingin beranjak dari tempat tidur tapi kakiku tak kuasa berjalan.
“Kaki bengkak. Dokter katakan tidak usah khawatir. Beberapa hari nanti akan pulih”
Aku diam, mencoba mengingat kejadian tadi.
“Ma, Rara mana ma?” sambil memegangi tangan mertuaku.
“Sudahlah nak. Kamu jangan lagi seperti ini,” jawabnya khawatir.
“Polisi masih berupaya sebulan ini mencari anakmu. Abram juga masih belum ditemukan. Bukan hanya kamu saja yang sedih, mama juga sedih. Abram anak mama satu-satunya, Rara juga cucu mama satu-satunya,” jawab mertuaku terisak
“Tapi tadi aku melihat Rara ma.”
“Itu hanya khayalan saja. Jika toh nanti Rara dan Abram tak juga ditemukan, kita harus mengikhlaskan mereka.”
Aku terdiam.
“Beristirahatlah, kamu terlalu lelah seharian. Sudah jam satu dini hari. jika ada apa-apa, mama tidur dikamar sebelah.”
Ibu mertuaku mengambil selimut dan meletakkan di atas badanku. Ia mematikan lampu, lalu menutup pintu kamar.
Hampir satu jam aku berdiam diri. Setelah memastikan rumah hening, aku berjalan keluar kamar. Ku buka kamar Rara, mengambil boneka beruang dan boneka dolphin di atas tempat tidurnya.
Aku keluar dan berhenti sejenak di depan pintu tempat mertuaku tidur. Menuruni anak tangga belakang rumah, mengambil sekop di gudang dan berjalan ke taman belakang.
Aku menggali tanah sekuat mungkin, berkali-kali tanpa henti. Sampai merasakan ujung sekop mengenai sebuah papan, aku bersihkan sisa-sisa tanah yang masih melekat diatasnya. Aku buka papan itu.
“Syukurlah nak, kau masih ada disini. Sudah tiga bulan kamu di tempat ini pasti kamu bosan. Ini mama bawakan boneka beruang dan dolphin kesayanganmu.”
“Papa disebelahmu sepertinya tertidur dengan nyenyak. Oh iya, Kamu pasti merindukan nenek. Tenang saja sebentar lagi sebelum fajar, mama bawa nenek ke sini supaya bisa tidur bersama kalian.”
Kulirik jam tangan tepat jam tiga pagi. Aku berdiri, menaiki tangga sambil menyeret sekop lalu berhenti tepat di depan pintu kamar mertuaku. Aku buka pintu kamar sangat pelan, nyaris tanpa bunyi. Kamar gelap, hanya ada satu lampu kecil menyala di kamar mandi. Aku ayunkan sekop tepat mengenai kepala mertuaku. Teriakan kecil, badannya meronta. Aku ayunkan lagi sekop ke arah leher dan kepalanya. Cipratan darah segar mengena lengan dan bajuku. Hening, tak ada lagi teriakan, tubuhnya diam. Aku bungkus ia dengan selimut. Ku seret sampai ke taman belakang, dan kembali menggali tanah tepat di samping rara.
“Ra sayang, mama sudah bawakan nenek untuk kamu dan papa biar ada temannya”
“Mama tidak bisa lama-lama ya sayang. Sudah mau pagi, mama mau cari kerja lagi.”
“Papa, mama pergi dulu ya.”
Aku kembali ke kamar. Jam dinding menunjukkan Pukul 04.20. Aku buka laci kamar mengambil beberapa tablet dan kapsul. Ini sudah bulan ke enam aku mengkonsumsi kembali obat dari dokter andalanku. Badanku jadi lemas, kantuk tak tertahankan. Aku rebahkan diri. Di langit-langit kamar terlihat jelas wajah ayah, ibu dan kakak. Ayah menampar ibu dan kakak. Ibu menjerit, kakak melawan. Rumah berhamburan, perabotan juga pecah. Ibu mendorong ayah sampai jatuh ke tangga. Ayah bangkit kesakitan, ia masuk kamar keluar dengan memegang pistol.
Doooor.. doooor..
Dua kali suara tembakkan. Seketika ibu dan kakak jatuh tergeletak darah mengalir.
Doooor..
Satu tembakan lagi.
Pistol jatuh ke tangga, ayah tergeletak. Aku wanda kecil berusia 5 tahun kala itu bersembunyi di bawah meja makan. Seluruh badan gemetar, bibir biru, wajah pucat pasi. (*)
