Harapan Penanggulangan Stunting di Banggai Semakin Terbuka

Luwukpost.id -

Upaya mencegah stunting di Kabupaten Banggai menunjukkan hasil menggembirakan. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa pendampingan oleh kader Posyandu secara signifikan mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kebiasaan ibu dalam memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat bagi anak balita.

Penelitian yang dilakukan terhadap para ibu dengan anak usia di bawah dua tahun (baduta) ini menemukan peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah dilakukan pendampingan. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 62 menjadi 87. Sikap ibu dalam mengasuh dan memberi makan anak juga berubah secara positif, dari nilai awal 63 menjadi 91. Bahkan keragaman makanan yang diberikan kepada anak turut membaik, menunjukkan bahwa edukasi gizi yang dilakukan kader berdampak langsung pada praktik sehari-hari. Selain itu, rasa percaya diri ibu dalam merawat anak—yang dikenal dengan istilah self-efficacy—juga mengalami peningkatan drastis dari 54 menjadi 88 setelah intervensi.

“Ini menunjukkan bahwa kader Posyandu tidak hanya menjadi pencatat data atau penimbang bayi, tetapi bisa menjadi agen perubahan dalam penanggulangan stunting,” ujar peneliti dalam laporan studinya.
Stunting masih menjadi salah satu masalah gizi kronis yang banyak ditemukan di Indonesia, termasuk di Banggai. Penyebabnya antara lain kurangnya pemahaman orang tua tentang pola makan dan pengasuhan yang tepat pada 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Program pendampingan oleh kader Posyandu yang diterapkan dalam penelitian ini memberikan edukasi langsung, sekaligus membimbing ibu dalam praktik memberi makan anak yang sehat dan bergizi. Peneliti menyarankan agar program ini terus diperluas dan disertai pelatihan berkelanjutan bagi para kader, agar dampaknya lebih merata.
Dengan strategi berbasis masyarakat seperti ini, harapan untuk menekan angka stunting di daerah-daerah terpencil seperti Banggai semakin terbuka lebar.(*)

Komentar