Disdikbud Banggai Bergerak Atasi Putus Sekolah di Pagimana

Luwukpost.id -

Kasus dua anak di Desa Sepa, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, yang terpaksa putus sekolah karena kondisi ekonomi kembali menyoroti tantangan pendidikan di wilayah pedesaan.

Apen dan Sintia, yang sudah lulus namun tidak melanjutkan pendidikan, kini bekerja serabutan dengan memungut batu dan kelapa untuk membantu keluarga.

Pemerintah Kabupaten Banggai menyatakan komitmennya untuk memberi perhatian serius pada kasus ini.

Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sejumlah program tengah dijalankan untuk menekan angka putus sekolah, khususnya di daerah terpencil.

Anak-anak seperti Apen dan Sintia tak boleh kehilangan hak pendidikan. Oleh karena itu Pemkab menyiapkan jalur pendidikan nonformal dan bantuan pendidikan agar mereka tetap bisa belajar.

Sejumlah solusi telah disiapkan, antara lain program Pagimana Bersekolah, yang memberi wadah bagi anak putus sekolah dengan menyediakan tempat tinggal dan pembinaan sesuai minat serta bakat.

Selain itu, jalur pendidikan nonformal juga digencarkan, dengan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja, serta sertifikat kesetaraan sebagai pengakuan resmi.

Dari sisi pembiayaan, pemerintah mendorong pemanfaatan BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dan KIP (Kartu Indonesia Pintar) bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Bantuan tersebut diharapkan bisa meringankan beban ekonomi keluarga, sehingga anak tidak lagi memilih berhenti sekolah.

Pemerintah pusat maupun daerah sudah menyediakan instrumen bantuan. Tantangannya tinggal bagaimana memastikan anak-anak di desa benar-benar terjangkau program ini.

Kasus di Desa Sepa menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kerja sama dengan sekolah, orang tua, serta masyarakat dalam menjaga anak tetap berada di bangku pendidikan. ***

Komentar