Rektor Universitas Tompotika (Untika) Luwuk, Taufik Bidullah, menyampaikan laporan lengkap mengenai perjalanan panjang pembangunan gedung baru lantai 2 dan 3 dalam acara peresmian yang turut dihadiri Bupati Banggai, Jumat, 12 Desember 2025.
Dalam laporannya, Taufik mengawali dengan apresiasi atas komposisi pengurus yayasan yang baru, termasuk Sekretaris Kabupaten Banggai yang kini ditetapkan sebagai Ketua Pengurus Yayasan Untika.
Menurutnya, figur tersebut memiliki sejarah panjang dalam pendirian Untika sehingga penunjukannya dinilai tepat.
“Sejarah mencatat, peletakan batu pertama pendirian universitas tidak lepas dari peran besar beliau,” ujar Taufik.
Ia juga menyebut komposisi pengawas dan pengurus yayasan yang baru, sebagian besar merupakan figur yang pernah berkarya di Untika. Kondisi ini diyakini menjadi energi baru bagi pengembangan kampus.
Taufik kemudian melanjutkan laporannya mengenai perjalanan panjang pembangunan gedung utama Untika. Ia menyebut pembangunan tersebut memakan waktu sekitar 10 tahun sejak dimulai pada 2012 di era almarhum Marwan Mile.
Hingga 2018, pembangunan baru mencapai lantai satu yang dibiayai melalui kredit Bank senilai sekitar Rp2 miliar.

Percepatan pembangunan baru terjadi ketika Bupati Banggai Amirudin, yang juga menjabat Ketua Yayasan Untika, memberikan dukungan anggaran melalui APBD.
Pada 2022, Pemkab Banggai mengalokasikan sekitar Rp3 miliar melalui Dinas PUPR untuk penyelesaian lantai dua. Dukungan kembali diberikan pada 2024 dengan hibah sekitar Rp2 miliar untuk menyelesaikan lantai tiga.
“Kurang lebih 10 tahun bangunan ini belum tuntas. Namun di masa pemerintahan Pak Bupati Amirudin, alhamdulillah bisa diselesaikan,” tegas Taufik.
Gedung tersebut kini menjadi fasilitas dasar Untika yang menampung kegiatan perkantoran dan perkuliahan untuk empat fakultas: Pertanian, Teknik, Ekonomi, dan Kesehatan Masyarakat.
Sebelum gedung rampung, Untika mengalami kesulitan distribusi ruang kuliah dan perkantoran. Bahkan beberapa fakultas terpaksa melakukan praktikum melalui kerja sama dengan Universitas Tadulako dan Universitas Negeri Gorontalo. Mahasiswa pun harus menetap di Palu selama satu semester untuk memenuhi kebutuhan laboratorium, yang berdampak pada beban biaya.
Karena itu, Taufik menegaskan bahwa Untika masih sangat membutuhkan fasilitas penunjang lainnya, terutama laboratorium terpadu sebagai syarat utama fakultas eksakta.
“Laboratorium terpadu menjadi kebutuhan dasar kami. Kami sangat berharap tahun depan bisa kembali mendapatkan dukungan besar dari pemerintah daerah,” ujarnya.
Taufik menutup laporannya dengan menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Banggai dan berharap kolaborasi pemerintah daerah dan yayasan terus berlanjut demi masa depan pendidikan tinggi di Kabupaten Banggai. ***

Komentar