JAPAN, Wilayah pesisir timur laut Jepang, tepatnya di kawasan Tohoku, terus bersiaga pascagempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang pada 20 April malam. Hingga Rabu (22/4) pagi, suasana mencekam masih terasa dengan bunyi sirene darurat yang sesekali memecah keheningan di sela proses evakuasi warga.
Laporan langsung Kontributor Luwuk Post di Jepang, Yasin, menggambarkan kondisi pesisir Tohoku yang luluh lantah. Bangunan-bangunan mengalami retakan hebat dan puing-puing material berserakan di sepanjang jalan utama.
Pemadaman listrik massal yang terjadi sesaat setelah gempa sempat membuat situasi evakuasi mandiri warga di tengah malam menjadi dramatis.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami tak lama setelah guncangan terjadi. Hal ini memicu gelombang pengungsian besar-besaran ke dataran tinggi.
“Kami langsung lari begitu mendengar peringatan. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang,” ujar salah satu warga setempat saat ditemui di lokasi pengungsian.
Di tengah ribuan pengungsi yang memadati posko-posko darurat, terdapat sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI), termasuk para pekerja magang. Salah satu pekerja migran asal Indonesia menuturkan bahwa ini merupakan pengalaman pertamanya merasakan guncangan dahsyat selama menetap di Negeri Sakura.
“Saya sangat takut, tapi warga Jepang di sini sangat sigap membantu kami dan memberi arahan yang jelas saat evakuasi,” ungkapnya.
Pemerintah Jepang melalui Kantor Perdana Menteri telah menetapkan status tanggap darurat. Sementara itu, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo terus melakukan koordinasi intensif dengan otoritas lokal untuk memantau keselamatan warga negara Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun luka serius dari pihak WNI. Meski demikian, aktivitas sehari-hari warga Indonesia di wilayah terdampak lumpuh total. Banyak dari mereka yang masih memilih bertahan di pengungsian lantaran trauma dan adanya ancaman gempa susulan.
Solidaritas antara warga lokal dan warga asing menjadi pemandangan yang mengharukan di pusat-pusat evakuasi. Relawan mulai mendistribusikan logistik berupa makanan siap saji dan selimut, mengingat suhu di pesisir Tohoku masih terasa sangat dingin.(Ys)

Komentar