Bisnis retail Fashion dan usaha butik akhir-akhir ini menunjukkan dinamika yang cukup dinamis. Strategi digitalisasi dan adaptasi terhadap tren konsumen kian menghadirkan persaingan ketat ditengah issue efisiensi anggaran oleh Pemerintah.
Di wilayah Kabupaten Banggai sendiri, pertumbuhan bisnis butik juga semakin meningkat, hal ini mendorong para pegiat usaha untuk terus berinovasi dengan menghadirkan berbagai strategi pemasaran. Hal itu diakui pemilik usaha Butik LWKSHOP, Nur Hayati. Kepada media ini Ia mengaku, kualitas produk dan pelayanan perlu disesuaikan seiring dengan perkembangan tren fashion saat ini.

“Sebagai owner, langkah yang kami lakukan bukan hanya bersaing dari segi harga, tetapi lebih fokus pada kualitas produk, pelayanan, dan mengikuti perkembangan tren fashion,” beber pemilik butik yang beralamatkan di Kelurahan Kampung Baru, Luwuk tersebut, saat ditemui pada Selasa (8/9/2026) kemarin.
Dari segi desain produk, lanjut Owner LWKSHOP ini,
pihaknya selalu berusaha untuk memberikan pilihan model yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter konsumen di daerah. Selain itu, pemasaran melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, dan WhatsApp juga terus ditingkatkan agar jangkauan konsumen lebih luas.
“Untuk saat ini, pasar utama kami masih berada di wilayah Banggai Bersaudara. Namun, kami tidak membatasi pemasaran hanya di wilayah tersebut. Dengan adanya media sosial dan layanan pengiriman, kami memiliki peluang untuk menjangkau konsumen di daerah lain seperti Ampana, Morowali, dan Poso. Jadi ke depannya, kami ingin memperluas pasar secara bertahap, terutama melalui pemasaran online,” paparnya.
Secara logistik, tambah Nur Hayati, jalur pengiriman antardaerah di Sulawesi Tengah sudah mencakup Poso, Ampana, Morowali, dan wilayah lainnya. Meski begitu, lanjutnya, efisiensi anggaran yang saat ini digulirkan Pemerintah cukup memberikan dampak negatif bagi perkembangan dunia usaha.
“Terutama berpengaruh pada daya beli masyarakat atau aktivitas ekonomi di daerah. Namun, kami berusaha tidak terlalu bergantung pada kondisi tersebut. Bisnis fashion memiliki pasar yang cukup luas karena kebutuhan berpakaian tetap ada,” katanya.
Sebagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut, pihak LWKSHOP senantiasa menyesuaikan stok dengan daya beli konsumen, menyediakan pilihan harga yang beragam, mengurangi stok yang kurang diminati, dan lebih aktif melakukan promosi.
“Jadi kalau terjadi perubahan kondisi ekonomi, kami berusaha lebih fleksibel dalam mengatur stok, harga, dan strategi pemasaran,” ujarnya.
Dikonfirmasi lebih lanjut terkait sasaran pasar yang coba dijajaki LWKSHOP saat ini, Nur Hayati mengaku, lebih berorientasi pada Gen Z. Karena menurutnya, karakter konsumen Gen Z sekarang, cenderung menyukai produk yang terlihat menarik secara visual, mengikuti tren, tetapi tetap nyaman dan memiliki harga yang sesuai dengan daya beli mereka.
Selain itu, Gen Z juga, kata Dia, bukan hanya membeli produk, tetapi juga tertarik dengan bagaimana produk tersebut ditampilkan dan cerita di balik sebuah brand. Karena itu, pihaknya akan terus berusaha untuk menghadirkan konten produk yang lebih kreatif, natural, dan mudah diterima oleh mereka.
“Untuk pemasaran, Gen Z juga sangat dekat dengan konten media sosial. Karena itu, kami melihat TikTok dan Instagram menjadi media yang penting untuk memperkenalkan produk, terutama melalui video pendek, mix and match outfit, konten OOTD, review pelanggan, promo, dan live shopping,” pungkasnya. (*)

Komentar