
SALAKAN, LUWUK POST-Peningkatan jalan dusun II dengan III Desa Leme-leme Darat, Kecamatan Buko yang terhubung dengan Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) Kokolomboi mendapat dorongan dari banyak pihak. Seringnya kunjungan turis mancanegara menjadi salah satu alasan agar sesegara mungkin akses itu diperbaiki.
Pengelola taman mencatat, para tamu mulai berdatangan sejak tahun 2009 silam sampai dengan sekarang. Tarif yang diberlakukanpun tidak sedikit, yakni Rp 4 juta sampai 5 juta. Jika bukan karena pandemi Covid-19, sebanyak 50 orang turis asal Firlandia telah melaporkan rencana kunjungannya ke Kokolomboi di tahun ini.
“Jadi kalkulasi saja berapa pemasukan yang kami terima dengan jumlah pengunjung dan tarif berlaku?,” ungkap Kepala Desa Leme-leme Darat, Wely Siako, Minggu (13/9).
Pemerintah desa (Pemdes) setempat, kata dia, telah berulang kali menyampaikan usulan tersebut kepada pemerintah daerah (Pemda) dalam berbagai kegiatan, seperti Musyawarah Rencana Pembangunan Daerah (Musrembang) tingkat kecamatan dan kabupaten.
Bahkan, Bupati Rais D Adam pernah dihadirkan pada forum musyawarah besar lembaga adat Buko, khususnya Leme-leme.
“Harapan kami bupati bisa melihat langsung kondisi jalan kami. Dengan begitu beliau bisa mengistruksikan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk menyikapinya. Tapi apa boleh buat, hingga kini belum ada realisasi,” keluh dia.
Namun mengenai akses jalan itu, pemdes dan pengelola memiliki catatan penting. Yaitu, peningkatan jalan sebatas pengerasan, bukan aspal. Alasan penolakan pengaspalan akses jalan menuju Taman Kehati adalah, dapat memicu perombakan hutan.
“Para oknum pelaku ilegal loging akan dengan mudah masuk dan merusak hutan kawasan taman karena mulusnya jalan. Kami menolak itu, jadi cukup pengerasan saja,” tegas dia.
Wely menentang keras praktek ilegal itu karena akan merusak habitat hewan endemik atau tumbuhan langka yang selama ini hidup damai di dalamnya.
Sebab menurut dia, salah satu upaya untuk menjaga kelangsungan hewan dan tumbuhan endemik Pulau Peling tidak hanya terfokus pada objek langsung, melainkan harus diperhatikan pula kondisi alam.
“Jangan sampai mereka pergi mencari alam yang sesuai. Kalau hutan dirambah jelas itu adalah tindakan mengusir harta Kehati Peling,” katanya.
Dia berharap apa yang menjadi keinginan Pemdes dan pengelola segera disahuti Pemda.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangkep, Ferdy Salamat menegaskan, dirinya sependapat dengan keinginan Pemdes dan pengelola.
Benar, kata dia, kualitas jalan aspal akan memantik kerawanan masuknya para perombak hutan. Dia menilai, pengaspalan seyogyanya sangatlah baik untuk meningkatkan kualitas infrastruktur taman dengan catatan, pengelola harus siap siaga setiap waktu berpatroli menjaga keamanan Kokolomboi.
“Tapi itu akan melelahkan, sebab kawasan taman tidak kecil. Karena itu saya setuju dengan pengerasan. Kokolomboi memang membutuhkan pembangunan, tapi harus yang sesuai untuk kelangsungan hidup ekosistem di dalamnya,” pungkasnya.(Iman)

![MANGROVE 02 TRANSPLANTASI KARANG: Pokdarwis dan BPD Desa Kambani saat melangsungkan kegiatan tranplantasi karang di perairan laut Kambani, tepatnya di Bone Bulungan, Minggu (31/1/2020). [Foto : akun FB Pokdarwis Kambani]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/MANGROVE-02.jpg)

![PENYUSUNAN DED PENYUSUNAN DED: Pemaparan Hasil Survei Kawasan Hutan Kokolomboi Dari KLHK di Aula Kantor DLH Bangkep. [Foto: Istimewa]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2020/12/PENYUSUNAN-DED.jpg)
![SOSIALISASI DLH JANGAN CEMARI LINGKUNGAN: Sosialiasi pengendalian kerusakan pencemaran dan kerusakan peisisir dan laut. [Foto: Istimewa]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2020/12/SOSIALISASI-DLH.jpg)

