Temui DPRD Sulteng, Mahasiswa Kecewa

Luwukpost.id -

PALU, LUWUK POST–Aliansi mahasiswa se Kota Palu kecewa dengan wakil rakyat di DPRD Sulteng. Pada aksi demo lanjutan penolakan Omnibus Law di Palu Senin (12/10), perwakilan mahasiswa dipersilakan masuk ke gedung DPRD Sulteng.

Di dalam gedung parlemen, mahasiswa mengungkapkan kecewaannya yang menumpuk sejak aksi unjuk rasa pada Kamis 8 Oktober 2020 yang berujung chaos. Dan mereka menceramahi anggota DPRD Sulteng tidak memiliki empati terhadap rakyatnya.

15 mahasiswa diizinkan masuk dan anggota DPRD yang menerimanya yaitu Alimuddin Paada, Sony Tandra, Wiwik, Sri Lalusu. Namun, lagi-lagi ketua DPRD Sulteng Nilam Sari Lawira tidak hadir saat itu.

Dalam diskusi selama sejam itu, gagal dicapai mufakat. Perwakilan mahasiswa menginginkan agar rekan-rekannya yang berada di jalan agar dipersilakan unjuk rasa di depan gedung DPRD. Karena sama dengan aksi Kamis lalu, aksi unjuk rasa mahasiswa dihalangi kepolisian sampai di perempatan lampu merah, atau sekitar 500 meter dari gedung DPRD Sulteng.

Sejumlah perwakilan mahasiswa saat dialog dengan politisi DPRD Sulteng, Senin (12/10). Dialog tersebut gagal mencapai mufakat. Foto lain, unjuk rasa mahasiswa dihalangi kawat berduri, 500 meter dari gedung DPRD Sulteng di kota Palu. [Foto Barnabas Loinang/ Luwuk Post ]
Unjuk rasa mahasiswa dihalangi kawat berduri, 500 meter dari gedung DPRD Sulteng di kota Palu, Senin (12/10). [Foto Barnabas Loinang/ Luwuk Post]
Permintaan mahasiswa itu ditolak sehingga mereka kecewa dan menyebut wakil rakyat tidak punya nalar berpikir atas aspirasi mahasiswa. Dialog gagal mahasiswa pun mengaku kecewa dengan wakil rakyat.

Di dalam gedung, turut hadir Irwasda Polda Sulteng dan Kapolres Palu AKBP Riza Faisal. Riza Faisal yang dituding menghalangi aksi unjuk rasa membenarkan, menghalangi mahasiswa unjuk rasa di depan gedung DPRD Sulteng. Alasan Riza, khawatir akan terjadi chaos yang berujung merusak fasilitas pemerintah seperti aksi pada Kamis lalu.

“Saya tidak mau tertipu lagi karena aksi yang Kamis lalu diperbolehkan di depan gedung DPRD tetapi kemudian chaos,” kata Riza.

Meskipun dihalangi, aliansi mahasiswa tetap melakukan orasi lanjutan di perempatan. Mereka mengaku tetap akan menyuarakan keadilan untuk rakyat sampai keadilan itu akan terjadi. (bas)