Oleh: Alisan
Di sela pelariannya, Marco Larezzi menyempatkan menyusuri Bologna, Italia. Lain waktu, ia naik kereta api menuju kota lain untuk berkirim surat kepada putranya. Sekadar mengabarkan diri tanpa mengharap balasan, meski hanya bertulis, ”grazie giorno?”
Bukan sekadar fokus pada Joel Backman dan kasus teknologinya, Novelis John Grisham telah menjelaskan cukup detail bagaimana transportasi darat yang menarik di Benua Eropa yang luasnya 10,18 juta kilometer persegi.
Bergeser ke Jerman, Franz Kafka dalam catatan per 26 Agustus 1911 memberikan gambaran transportasi darat di sana. “Besok aku seharusnya pergi ke Italia,” tulis Kafka yang lahir 1883 di Praha.
Secepat itu Kafka di Berlin merencanakan keberangkatan tanpa menunggu jadwal bus bermuatan sesak seperti yang ditumpangi Guru Desi menuju Tanjong Pandan pada novel Guru Aini yang ditulis Andrea Hirata di abad ini.
Kereta menguasai rel di benua itu, bukan bus antarkota yang memuat sepeda motor atau mobil keluarga yang disewakan antarprovinsi dan mengangkut melebihi kapasitas.
Italia, terletak di jantung Laut Mediterania. Dihubungkan oleh Laut Tengah, berkelok sampai ke Terusan Suez dan memanjang hinggal Laut Merah. Jalur pelayaran yang dibuka tahun 1869. Kian maju setelah didukung Pelabuhan Said dan Pelabuhan Taofik. Dua pelabuhan yang jauh lama dari Patimban, Jawa Barat di abad ini.
Didominasi lautan, Pasifik mendandani kapal dan pelabuhannya agar tak goyah digoyang gelombang. Barangkali, armada-armada yang melintasinya tak bergerak dikocok angin Tenggara Laut Banda atau angin Utara Laut Maluku.
Eropa yang tim pertolongannya hebat, mungkin tak berani berpetualang di Laut Mediterania dengan menumpangi kapal-kapal 30 grosston atau perahu motor cepat 90 tenaga kuda. Saban tahun, perebutan sejengkal lautan mungkin menjadi cerita di kedai-kedai kopi di Bologna, bukan jumlah jiwa yang hilang di laut lepas atau kapal laut patah kemudi.
***
Jauh di daratan Eropa, Pasifik, atau Terusan Suez, seorang peneliti muda datang ke Banggai Kepulauan dan Togean. “Sejak tahun 1991, Mochamad Indrawan telah melakukan penelitian di Kepulauan Banggai dan Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-una.” Tulis Harian Luwuk Post dalam laporannya 8 September 2017.
Dari Ibu Kota, peneliti independen, dosen tamu di Universitas Indonesia, Kansas University (AS), dan Kyushu University (Jepang) itu, menjatuhkan tidur dalam bus yang menjadi moda angkutan dari bumi Kaili ke wilayah penelitian. Bus harus berenang ke dasar sungai. Di abad ke-20, dari Kota Palu ke Luwuk, Kabupaten Banggai belum menjadi persinggahan pesawat udara. Apalagi bentangan rel seperti dari Bologna ke Milan.
Meski, saat itu ia menghasilkan berbagai publikasi ilmiah internasional nun jauh di Sulawesi, tak mudah menempuhnya. Kedua kepulauan ini memiliki peluang evolusi yang jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya. “Indrawan bahkan menghasilkan berbagai penemuan spesies endemik yang tidak terdapat di tempat lain di dunia dan belum pernah diketahui sebelumnya.” Ia berjuang dalam keterbatasan transportasi darat 29 tahun lalu.
Ketika Terusan Suez hingga Laut Tengah mungkin telah dilintasi kapal tanker di abad 19, pelayaran dari Kabupaten Banggai ke Banggai Laut tahun 1960-an masih menggunakan kapal layar. Sebuah armada yang mengikuti arah angin.
Habis kapal layar, terbitlah KM Abadi 1, 2, dan 3. Armada laut yang di atas tahun 2000-an berubah fungsi menjadi kapal ikan hingga kini. Kapal serupa juga melintasi Sulawesi Tenggara ke Kepulauan Banggai, tapi bernama KM Putra Lamuru. “Begitu kapal Tampomas II tenggelam, ganti semua kapal yang lebih besar,” kata bapak saya bercerita tentang pelayarannya yang dimulai dari Kendari di suatu siang.
KM Tampomas II tenggelam di Kepulauan Masalembo 25 Januari 1981, karena kebocoran bahan bakar lalu menjadi neraka 30 jam (Tirto.id 27 Januari 2018). Sebuah peristiwa yang membuat Dahlan Iskan terkenal karena liputan apiknya di majalah Tempo.
37 tahun kemudian, KM Fungka Pertama IV bernasib seperti Tampomas II. Terbakar dan tengggelam menjadi penghuni dasar laut Bangkurung. Menyisakan perih bagi 126 penumpang dan 11 anak buah kapal dan menanti duka kemudian sambil mendengar janji yang mengapung lima tahun sekali. (*)

![OL_AMIRUDIN TAMOREKA SILATURAHMI AT-FM DI BANGKEP: Bupati Rais D. Adam, Wakil Bupati Salim J. Tanasa, Ketua DPRD Rusdin Sinaling dan Sekreraris Daerah menyambut kedatangan ATFM di Bangkep, Senin (8/2/2021). [Foto: Rifan/Luwuk Post]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/OL_AMIRUDIN-TAMOREKA.jpg)
![ANUGERAH PWI PENGHARGAAN PWI: Bupati Banggai Herwin Yatim saat menerima Anugerah Kebudayaan PWI 2021 bersama 9 bupati/walikota pada puncak peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2021 di Jakarta, Selasa (9/2). [FOTO ISTIMEWA]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/ANUGERAH-PWI.jpeg)
![BNNP Sulteng PEMAPARAN TENTANG NARKOBA: Kepala BNNP Sulteng, Brigjen Pol. Monang Situmorang bersama Kapolres Banggai AKBP Satria Adrie Vibrianto saat menyambangi Mapolres Banggai, Selasa (9/2). [Foto: Istimewa]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/BNNP-Sulteng.jpeg)

![RDP BNNK RDP BNNK: Rapat dengar pendapat (RDP) Komisi III, DPRD Banggai, terkait hibah tanah untuk pembangunan kantor BNNK Banggai. [Foto: Istimewa]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/RDP-BNNK.jpg)