Warga Mulai Krisis Air Bersih
LUWUK, LUWUK POST—Kondisi Sungai Desa Mayayap, Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai sampai dengan Minggu siang (27/12) belum juga kembali normal. Air sungai masih keruh. Selama dua hari, sebagian warga yang hanya mengandalkan kebutuhan air bersih dari sungai tersebut terpaksa mengambil air di tempat lain.
Pjs. Kepala Desa Mayayap Imran Bilatu mengatakan, banjir kali ini berbeda dengan banjir tahun sebelumnya. Ketika banjir surut dan volume air normal perubahan keruh air mulai terlihat.
“Sampai siang (minggu) air masih warna orange, tidak seperti biasa, kalau banjir surut air mulai jernih,” kata Imran.
Perubahan warna sungai pascabanjir pada Sabtu (26/12) dini hari, masyarakat tidak lagi menggunakan air sungai untuk mencuci, mandi dan keperluan lain.
Imran mengatakan, kebiasaan warga yang mengandalkan air bersih di sungai. Saat banjir surut warga membuat kubangan di pinggiran sungai, air yang dalam kubangan diambil untuk kebutuhan air bersih. Dengan kondisi sungai saat ini, warga memilih untuk mengambil ke tetangga mereka yang memiliki sumur.
“Sudah dua hari masyarakat tidak lagi mengunakan air sungai, padahal biasanya setelah banjir warga menggali lubang kecil di pinggiran sungai, air dalam lubang itu digunakan untuk masak dan minum,” paparnya.
Dia tidak menuding jika perubahan warna air diakibatkan limbah perusahaan nikel yang beroperasi di wilayah lereng pegunungan Tompotika. Hanya saja, pihaknya masih akan melakukan peninjauan dengan masyarakat di lokasi pengambilan material tambang nikel.
“Peninjauan belum kita putuskan kapan waktunya karna masih dimusyawarakan dengan aparat desa untuk menetukan jadwal peninjauan lokasi tempat kegiatan tambang nikel. Kalau terbukti sungai dicemari akibat pertambangan nikel, maka kami akan menempuh jalur hukum,” tegas Imran.
Sungai Mayayap tambah Imran, tidak hanya digunakan oleh warganya. Tapi digunakan oleh petani desa trans Mayayap untuk pengairan areal persawahan.
Warga lainnya pada Sabtu (26/12), terkejut melihat sungai yang keruh berwarna orange. Padahal volume air sungai telah kembali normal.
“Sudah puluhan tahun baru kali ini saya lihat warna air saat banjir keruh, air kemerah-merahan begini,” kata warga setempat, Ideng kepada wartawan saat mengabadikan gambar.
Sungai Mayayap kata Ideng, setiap banjir airnya keruh tidak berwarna seperti sekarang. Ketika banjir surut kondisi air cepat jernih. Warga menduga berubahnya warna air sungai itu, akibat dampak aktivitas perusahaan tambang nikel.
Sebelumnya, warga Desa Mayayap pernah melakukan aksi protes terhadap aktivitas perusahaan pengolahan kayu. Sebab, perusahaan menutup aliran sungai dan anakan sungai.
Protes warga berlanjut sampai ke DPRD Banggai, pada 7 September 2020. DPRD Banggai melalui Komisi I melakukan hearing dengan mengundang pihak perusahaan PT. Integra dan PT. Penta, bersama pemerintah Kecamatan Bualemo dan aparat Desa Mayayap.
Dari hasil hearing perusahaan bersedia melakukan normalisasi sungai dengan cara mengeruk kembali material yang menimbun aliran sungai dan tanpa memberi kompensasi ke Desa Mayayap yang terkena dampak. (*/awi)




