Geliatkan Ekonomi dari Pertanian, Perikanan, dan UMKM

Luwukpost.id -

LUWUK, LUWUK POST– Pertumbuhan ekonomi tertekan ketika pagebluk mewabah. Sektor pertanian, perikanan, dan UMKM diharapkan menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Banggai untuk menopang daya beli, selain bantuan langsung tunai yang digulirkan melalui dana desa.

Kepala Seksi Bidang Sosial BPS Kabupaten Banggai Ruslan menjelaskan pandemi sangat berdampak pada semua sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi di daerah, sehingga terjadi kontraksi. Tahun 2019 ekonomi tumbuh 6,27 persen, kemudian tahun 2020 minus 4,78 persen.

Kontraksi itu berdasarkan hasil perhitungan BPS terhadap 17 sektor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan, mulai dari pertanian hingga pertambangan.  “Perhitungan ini berdasarkan keseluruhan sektor penyumbang pertumbuhan ekonomi,” ucapnya, kemarin.

Meski begitu, pelaku usaha dan pemerintah menatap optimisme tahun 2021. Itu karena pergerakan masyarakat tak lagi dibatasi secara ketat seperti sebelumnya. Transportasi kembali bergeliat, begitu juga sekolah yang akan dibuka kembali Juli mendatang.

“Perkiraan kami tahun 2021 angka peetumbuhan ekonomi tidak terlalu naik, tapi kami tetap optimis untuk bisa positif, dan tidak seperti angka tahun 2020,” katanya.

Rektor Universitas Muhammadiyah Luwuk Sutrusno K. Djawa melihat perlunya pemerintah daerah menggunakan APBD untuk menstimulus sektor pertanian, perikanan, dan UMKM. Hal ini agar daya beli masyarakat kembali bergairah.

Di sektor pertanian, kata dia, hortikultura berpotensi untuk terus dikembangkan karena dibutuhkan setiap hari di pasaran. “Orang kan butuh makan, holtikultura satu bulan sudah bisa panen,” tuturnya.

Adapun di sektor perikanan, sebut Sutrisno, pemerintah Kabupaten Banggai perlu mengawal dari tingkat nelayan hingga ke pasaran. Pemberian alat tangkap untuk meningkatkan produksi dan pemberian insentif kepada industri perikanan sangat dibutuhkan. “Dari tangkap sampai pasca tangkap harus difasilitasi pemerintah,” ujar dia.

Khusus UMKM, menurut dia, cepat bangkit ketimbang industri padat modal seperti pertambangan. Memang, ketika awal pandemi, seluruh sektor ikut terpukul. “Di masa pandemi UMKM cepat recovery ketimbang yang besar-besar ini,” katanya.

Sutrisno mendorong agar pemerintah Kabupaten Banggai fokus mengurus tiga sektor itu, karena berdampak secara langsung kepada masyarakat. “Pemerintah ke arah itu, bukan ke arah yang besar (industri pertambangan),” ujar dia.

Pemerintah Kabupaten Banggai juga mengincar pertumbuhan yang inklusif. Artinya dirasakan secara riil oleh masyarakat. “Kita ingin pertumbuhan, tapi yang berkualitas yang memang tumbuh di masyarakat,” kata Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Banggai, Ramli Tongko, Selasa (29/3).

Untuk mewujdkan hal itu, kata dia, sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata yang mesti dipacu. Pariwisata yang kini tengah menjadi perhatian karena berefek ke berbagai sektor yang bersentuhan pada masyarakat. Selain itu, didukung akomodasi dan potensi destinasi di Kabupaten Banggai. “Kita punya modal yang cukup untuk menuju ke sana,” katanya.

Dalam buku Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Banggai 2012-2016 yang diterbitkan Bappeda dan Litbang, perekonomian Kabupaten Banggai sejak 2012-2015 masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Namun, mulai 2016 mengalami perubahan struktur ekonomi, industri pengolahan lebih mendominasi, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 37,12 persen. Industri pengolahan berkontribusi 26,12 persen terhadap pertumbuhan, sementara pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya berkontribusi 23,12 persen. (tr-04/ali)