
Karya, Arma Juniawan Baharula
Masyarakat pada suatu negeri mengenal seorang manusia yang lekat dengan sebutan Sang Legenda. Ia pernah berjaya pada masanya. Dialah yang terhebat, karya-karyanya tak terbantahkan, sehingga orang-orang di negeri itu sangat menghormati-nya.
Beberapa tahun kemudian, dunia berkesenian di negeri itu pun semakin berkembang, terlihat dari banyak-nya seniman-seniman muda hebat dan berbakat yang bermunculan di negeri tersebut. Dengan semangat muda yang membara, mereka mulai unjuk gigi dengan segala kemampuan yang ada.
Karya-karya para Seniman muda itu sampailah ke telinga Sang Legenda, akan tetapi Sang Legenda sepertinya terlihat sedikit resah, tampaknya ia sedang gelisah. Yah Mungkin saja karena jiwa kompetitif perihal berkarya masih melekat erat di dalam dirinya.
Anehnya, seiring berjalan nya waktu, Sang Legenda selalu memandang remeh karya-karya para seniman muda itu. Ia mengklaim dirinya tidak tergantikan, karya-karyanya tidak terbantahkan, dan dia mengaku sebagai representasi dan citra dalam berkesenian di negeri itu, singkatnya, dia adalah segalanya, sedangkan yang lain dianggap pecundang.
“Hei, Kalian? Karya-karya macam apa itu? Apakah ini yang kalian sebut dengan berkesenian?” Ucap Sang Legenda disertai nada yang menyebalkan. Mendengar perkatannya, para seniman muda itu pun hanya tunduk dan terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.
Bak meteor yang jatuh menghantam bumi, para seniman muda itu sukar menghindar atau mengelak dari cacian dan hujatan yang terlontar dari mulut Sang Legenda. Ia selalu merasa tersaingi dengan kehadiran para seniman-seniman muda itu.
Bukannya mendapat dukungan, seniman-seniman muda itu justru mendapat perlakuan sebaliknya. Mereka merasa tertekan dan tidak menyangka bisa mendapat perlakuan buruk seperti itu dari sesama pelaku seni, apalagi dari Sang Legenda yang merupakan pendahulu mereka.
“Sudahlah, daripada kita memikirkan ucapan negatif itu, alangkah baiknya kita fokus meninggalkan kesan positif, sehingga dapat menginspirasi banyak orang, melalui karya-karya kita,” kata salah seorang seniman muda guna menyemangati teman-temannya.
Diluar dugaan, mereka mendapat kesempatan untuk tampil di setiap acara-acara kerajaan sebagai pertunjukan utama. Raja-raja dari setiap negeri pun selalu antusias untuk menampilkan pertunjukan para seniman muda itu. Mereka mendapat apresiasi yang luar biasa dalam berkesenian di negeri tersebut.
Karya mereka digandrungi oleh khalayak ramai. Berita tentang keindahan karya mereka secepat kilat tersebar ke seluruh penjuru negeri, kemudian menggema di daratan cina sampai jazirah arab bahkan eropa. Dunia mengakui mereka, sehingga mereka dianggap sebagai figur penting bagi sejarah perkembangan seni di negeri itu.
Lantas bagaimana dengan nasib Sang Legenda? Alih-alih karya dibalas karya, ia malah sibuk memainkan peran sebagai kritikus sejati yang diiringi kedengkian beserta keangkuhanya. Kenyataanya, semua kisah kisah superior Sang legenda ternyata tidak sehebat seperti yang terdengar. Yah benar saja, akhirnya ia ditinggalkan oleh orang-orang di sekelilingnya bahkan statusnya sebagai seorang seniman pun ikut hilang darinya. (*)
