Luwukpost.id – Pertamina EP Donggi Matindok Field bantu gairahkan ekonomi pendapatan pengembangan Keanekaragaman Hayati (Kehati) Kokolomboi, Desa Leme-leme Barat, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng)
Hal ini sebagaimana disampaikan Ketua Kelompok Pengelola Taman Kehati Kokolomboi, Labi Mopok. Pada momen kegiatan Media Gathering Pertamina Regional Indonesia Timur 2023, di Hotel HYATT Regency, Yogyakarta, Minggu, 24 September 2023.
Sebelumnya, kawasan pelestarian Taman Kehati Kokolomboi sendiri yang dikelola oleh Labi bersama beberapa rekannya, turut mendapat perhatian dari Pemerintah setempat melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bangkep.
Bahkan seiring waktu berjalan, Taman Kehati Kokolomboi pun mendapat perhatian secara masif dari berbagai pihak.
Salah satunya kehadiran Pertamina Donggi Matindok EP Field (DMF), yang kemudian melakukan kerjasama dengan DLH Kabupaten Bangkep, dalam hal pengembangan Kehati Kokolomboi.
Hingga akhirnya memiliki Program Kokolomboi Lestari “Alam Lestari, Masyarakat Berdikari”.
Melalui kesempatan diskusi Media Gathering Regional Indonesia Timur 2023, Labi Mopok memaparkan secara singkat mengenai Kokolomboi Lestari.

Awalnya, ia bersama masyarakat Desa Leme-leme Barat, Kecamatan Buko, Kabupaten Bangkep, Sulteng, kerap mencari nafkah dengan melakukan pembalakan liar di hutan, khususnya di Kokolomboi.
Hasil buruan satwa pun dijual ke beberapa tengkulak yang menerima hasil perburuan mereka.
Kawasan Kokolomboi kata Labi, masih terdapat begitu banyak satwa khas Kabupaten Bangkep, yang terbilang langkah atau telah dianggap punah.
Diantaranya, Tarsius Peleng, ini telah dievaluasi oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN) sebagai satwa Terancam
(Endangered).
Sementara itu Gagak Banggai dikategorikan sebagai satwa kritis (Critically Endangered).
Namun untuk melakukan perubahan dan pencegahan tersebut, pada tahun 2020 pihaknya melakukan kegiatan inventarisasi serta pemetaan tanaman dan satwa endemik.
Kemudian, melakukan Revitalisasi kelompok hingga penguatan kelembagaan dan memberikan edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat tentang lingkungan.

Memasuki tahun 2021, di mana PEP Donggi Matindok Field melakukan MoU bersama DLH Bangkep, guna pengembangan Kehati Kokolomboi.
Kehadiran PEP Donggi Matindok Field tentunya sangat berperan penting serta melakukan sejumlah progam pendampingan melalui CSR terhadap kelompok Kokolomboi.
Peran serta pendampingan tersebut, maka dibuatlah pembangunan fasilitas pembibitan tanaman lokal sebagai langkah pengkayaan pakan
alami satwa endemic.
Kemudian melakukan perbaikan lahan kritis sebagai langkah pemeliharaan vegetasi rantai.
Hingga melakukan pendampingan dan pengembangan Proklim bersama Kelompok Adat Togong Tanga.
Terlebih, pelatihan budidaya madu dan pendampingan budidaya madu yang ramah lingkungan serta memonitoring Indeks Keanekaragaman Hayati.
Dari dampak program tersebut, terjadilah perbaikan kualitas lingkungan antara lain berupa peningkatan indeks
keanekaragaman hayati flora dari 4,11 menjadi 4,14 (+0,73%) dan
fauna dari 3,22 menjadi 3,28 (+ 1,86%).
Bahkan, terjadi pula peningkatan pendapatan anggota kelompok madu sebesar Rp9,832,000 per orang dalam setiap bulannya, hingga mereplikasi kawasan konservasi di 6 desa.

Labi mengaku, kebersamaan PEP Donggi Matindok Field saat ini, merupakan jalan pembuka pintu terhadap pasar usaha bagi masyarakat setempat maupun kelompok Kokolomboi.
“Dengan adanya kerjasama PEP Donggi Matindok Field bersama kami, itu membuka pintu usaha kami dan masyarakat terbantu dari segi penjualan,”tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Senior Manager Relation Pertamina PEP Cepu , Fitri Erika, menyampaikan secara korporasi atau tanggungjawab dalam Pertamina grup, berkaitan dengan wilayah kerja yang berdampingan dengan masyarakat.
Maka aktifitas pihak Pertamina pun dituntut untuk bisa bersinergi bersama masyarakat.
Olehnya, pihaknya berupaya bagaimana program-program CSR ini, bisa ditemukan maupun dijahit bersama.
Hal ini kemudian terus dilakukan improvisasi secara terus menerus, baik dari segi kesehatan, pendidikan maupun ekonomi.
Maka program tersebut bisa diukur tingkat kelanjutannya hingga kemudian menghitung indeks kepuasan masyarakat dari CSR yang dilakukan.
Tak hanya indeks masyarakat saja, namun bagaimana mengukur banyak hal terkait program-program yang sudah digulirkan.
“Mengingat, apa yang kita lakukan, semuanya harus bisa disajikan dalam bentuk laporan, yang kemudian dari waktu 3 tahun, kita mengevaluasi terhadap program-program apa saja yang telah berhasil,” ucapnya. (dat)
