Desa Sumberharjo merupakan sebuah desa di Kecamatan Moilong Kabupaten Banggai yang dikenal memiliki tanah yang subur. Namun, kelebihan yang dimiliki desa itu tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat khususnya para petani.
Pada 2017 silam merupakan puncak keresahan para petani di Desa itu yang mengalami gagal panen seluas 150 hektare. Gagal panen akibat tanaman padi mereka diserang hama tikus.
Kondisi pailit petani ini diungkapkan Kepala Desa Sumberharjo Baron Hermanto, sehingga ia nyaris kehabisan akal menggunakan beragam cara namun tidak ada yang berhasil. Salah satunya dengah penggunaan racun hama yang tidak maksimal membasmi tikus yang kerap beraksi ketika malam hari.
Tidak kehabisan akal, Kades Baron akhirnya bekerjasama dengan Joint Operating Body Pertamina – Medco E&P Tomori (JOB Tomori) untuk mencarikan solusi pembasmi hama tikus.
Pihak JOB Tomori memfasilitasi petani di Desa Sumberharjo untuk menggelar studi komparatif ke daerah Demak Jawa Tengah. Dimana, para petani Sumberharjo belajar atau mengadopsi cara jitu yang terbilang sudah sukses memanfaatkan Burung Hantu untuk menghantui hama tikus.
Inovasi itu mulai diterapkan pada 2018, namun diawal-awal ketika inovasi ini akan diterapkan, kendala yang dihadapi adalah kepercayaan masyarakat masih kurang. Seiring berjalannya Waktu, keresahan masyarakat terhadap burung hantu yang dianggap memiliki mitos pertanda buruk atas suara yang dikeluarkannya.
Namun, ketakutan tersebut terobati dengan pembuktian bahwa burung Hantu sangat jitu membasmi tikus. Setelah inovasi ini dirasa sukses, maka pemerintah desa mengesahkan Peraturan Desa (Perdes) tentang perlindungan Burung Hantu pada 2019.
Dalam peraturan tersebut, warga yang merusak rumah Burung Hantu atau membunuh burung ini akan didenda Rp100 juta atau dipenjara hingga lima tahun.
“Jadi burung Hantu ini memiliki kemampuan yang luar biasa, dengan indra penglihatan yang bisa memantau area seluas 5 hektare bahkan mampu mendeteksi hama tikus dalam radius 500 meter,”ungkap Baron.
Lebih lanjut diungkapkan Baron, seekor Burung Hantu mampu memangsa hingga tujuh ekor tikus per malam.
Setidaknya sudah ada 40 rumah burung hantu yang sudah dibangun, diantaranya sepuluh unit permanen dan 30 unit semi permanen.
Semua ini berkat support atau dukungan penuh JOB Tomori dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah. Dengan adanya burung hantu, maka saat ini hasil panen meningkat hingga 70 persen.
Bahkan, saat ini Desa Sumberharjo telah berubah menjadi Kawasan ekowisata Burung Hantu sejak Mei 2024 dengan pendanaan dari CSR JOB Tomori, dan diresmikan Bupati Banggai Amirudin.
Komitmen JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat dan perbaikan lingkungan di Desa Sumberharjo dinilai telah sukses. Salah satu program yang dijalankan yaitu “Panutan Banggai Pertanian Berkelanjutan” bertujuan untuk mendorong inovasi sosial di kalangan petani Banggai.
Program ini menekan 85% kerugian petani gagal panen akibat serangan hama tikus serta menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) untuk anak-anak.
Pemanfaatan Burung Hantu sebagai Predator Alami Hama Tikus menawarkan solusi ramah lingkungan dan efisien, dengan tidak menggunakan bahan kimia menghilangkan risiko kontaminasi tanah dan pencemaran lingkungan, Zero Fatality menghilangkan risiko kematian akibat penggunaan alat pengendali hama yang berbahaya, efisiensi hemat biaya hingga 95,7% dibandingkan metode pengendalian hama konvensional, serta tidak perlu pengawasan rutin, burung hantu dapat berburu secara mandiri, mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan pengawasan.
Program ini merupakan solusi berkelanjutan untuk pengendalian hama tikus yang aman, efektif, dan ramah lingkungan.
Ruru Rudianto AS, Relation Section Head JOB Tomori, menjelaskan, bahwa kolaborasi ini menunjukkan kepedulian JOB Tomori terhadap pertanian berkelanjutan. Pihaknya bekerja sama dengan kelompok tani dan kepala desa untuk memecahkan masalah di lapangan.
Program yang dihasilkan kemudian difokuskan untuk mengatasi masalah seperti hama, pupuk, dan ketersediaan air, dengan solusi seperti penggunaan pompa air berbasis kincir angin. Keberhasilan program ini telah menghentikan korban jiwa akibat penggunaan setrum untuk mengendalikan hama.
Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Desa Sumberharjo dan JOB Tomori, yang telah menghadirkan berbagai inovasi dan program pembinaan. Hasilnya, pertanian organik di daerah ini kini telah meraih sertifikasi Inovis, menjadikannya pertanian unggulan.
Agroekowisata Burung Hantu ini dibangun menggunakan dana CSR dan resmi dibuka pada Mei lalu. Program ini juga meraih inovasi utama dari mengikuti program Proklim, dan direncanakan untuk mengikuti program Proklim Lestari tahun depan.
Pihaknya berkomitmen untuk membudidayakan burung hantu guna membantu pertanian di desa, yang memiliki luas sawah 150 hektar dan terdiri dari 6 kelompok tani, termasuk 1 kelompok organik.
Terakhir, Business Support Senior Manager JOB Tomori, Agus Sudaryanto, menambahkan Kepala Desa Baron Hermanto, merupakan salah satu aktor penting dalam program ini, ia membawa perubahan yang sangat fantastis dengan komitmen kuat untuk mengajak warga serta mengeluarkan peraturan desa.
“Intinya, program ini fokus pada keberlanjutan lingkungan. Penggunaan burung hantu sebagai pengendali hama lebih ramah lingkungan dibandingkan metode lain yang berisiko tinggi, seperti penggunaan setrum yang berbahaya bagi nyawa, racun dan pestisida yang merusak tanah, serta pengasapan dan belerang yang dapat menyebabkan kerusakan paru-paru petani.” papar Agus.
Program ini menawarkan solusi yang tepat untuk keberlanjutan lingkungan. Penggunaan burung hantu sebagai pengendali hama membantu menjaga kesuburan tanah, meningkatkan hasil panen, dan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan penggunaan pestisida.
Program ini menerapkan konsep pertanian berkelanjutan atau agroekologi, yang fokus pada keseimbangan lingkungan dan keberlanjutan jangka Panjang. “Inovasi rumah hantu ini telah melalui tiga transformasi. Awalnya, pada tahun 2019, rumah hantu dibangun menggunakan bahan dasar kayu.
Kemudian, rangka diganti dengan tiang besi, namun rumah hantu tersebut terkena petir, Ini merupakan bentuk pembelajaran bagi kita sebagai manusia harus terus belajar untuk mendapatkan yang terbaik, semoga program ini menjadi program unggulan untuk tahun ini, kita akan pertahankan keberhasilannya, ” Harap Agus.
