Ratusan Mahasiswa Siap Turun ke Masyarakat, Rektor Untika Tekankan Peran Strategis KKN

Luwukpost.id -

Menjelang pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) angkatan ke-XXXIII tahun akademik 2026, Rektor Universitas Tompotika (Untika) Luwuk, Taufik Bidullah, menegaskan bahwa program KKN menjadi fase krusial bagi mahasiswa, tidak hanya sebagai tahap akhir akademik, tetapi juga sebagai ruang pengabdian nyata kepada masyarakat.

Dalam sambutannya pada kegiatan pembekalan KKN-PPM, Rektor menyampaikan ucapan selamat kepada mahasiswa peserta yang mengikuti kegiatan dengan mengenakan almamater biru.

Ia menyebut, keterlibatan dalam KKN menandai bahwa mahasiswa telah berada pada etape akhir pendidikan dan segera menyandang gelar sarjana.

Menurutnya, capaian tersebut tidak diraih dengan mudah. Ia mengungkapkan bahwa tidak sedikit mahasiswa yang harus berhenti di tengah jalan, bahkan sejak semester awal, sehingga tidak sampai pada tahap KKN.

“Tidak semua bisa sampai di fase ini. Ada yang berhenti sejak semester satu atau dua,” ujarnya.

Secara formal, lanjutnya, mahasiswa peserta KKN telah menyelesaikan sebagian besar beban studi yang dipersyaratkan dalam sistem perguruan tinggi, yakni sekitar 120 SKS.

Dengan capaian itu, mahasiswa dinilai telah memiliki kesiapan akademik serta kemampuan ilmiah dasar.

Ia juga menyinggung bahwa dalam konteks akademik, mahasiswa yang mengikuti KKN pada dasarnya telah berada pada posisi “hampir selesai” dalam studi mereka.

Namun demikian, Rektor menegaskan bahwa KKN bukan sekadar kewajiban akademik untuk meraih gelar sarjana. Lebih dari itu, program ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

KKN, kata dia, menjadi momentum tahunan bagi perguruan tinggi untuk mengaktualisasikan peran tersebut secara nyata di tengah masyarakat.

Ia mengajak seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pengarah, tim tema, tim monitoring dan evaluasi (monev), panitia, hingga mahasiswa, untuk menjadikan KKN sebagai kesempatan menunjukkan kontribusi nyata perguruan tinggi.

“Kita harus menunjukkan bahwa insan perguruan tinggi siap berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa KKN merupakan integrasi dari unsur pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Karena itu, setiap program yang dijalankan harus berbasis ilmiah, melalui proses kajian dan analisis yang terukur.

Pendekatan tersebut, menurutnya, penting agar kegiatan pengabdian yang dilakukan benar-benar memberikan dampak nyata dan mendukung transformasi masyarakat di berbagai aspek kehidupan.

Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak menyusun program secara sembarangan, melainkan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan.

Selain itu, Rektor menyoroti kontribusi besar KKN terhadap pembangunan daerah. Ia menyebut, jika dikonversi ke dalam nilai finansial, pelaksanaan KKN setiap tahun dapat mencapai puluhan miliar rupiah, tanpa menggunakan anggaran pemerintah daerah.

Hal ini mencerminkan komitmen dan partisipasi sukarela mahasiswa dalam mendukung pembangunan.

Rektor juga menekankan pentingnya dukungan dan sinergi dari pemerintah daerah, mulai dari tingkat Kabupaten, Kecamatan, hingga desa, guna memastikan keberhasilan pelaksanaan KKN. ***

Komentar