Kemenbud Gali Jejak Syekh Yusuf di Sulteng

Gandeng PWI Sulteng, Tim Kementerian Kebudayaan Telusuri Jaringan Maritim dan Tradisi Lisan Syekh Yusuf Al-Makassari di Palu hingga Donggala

Luwukpost.id -

PALU,  Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia terus mematangkan persiapan perhelatan budaya berskala nasional bertajuk “Temu Narasi: Syekh Yusuf Al-Makassari (SYAM)”. Sebagai bagian dari rangkaian survei dan koordinasi, tim pusat menyambangi Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sulawesi Tengah di Palu, Kamis (13/8/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan oleh tim Direktorat Promosi Kebudayaan, Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kemenbud yang terdiri atas A. Sulkarnaen, Hafsah, Acmad Iqbball Subbarkah, dan Keni Anggraini, dengan didampingi perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulteng, Muhammad Dede Al-Fassy.

Rombongan diterima langsung oleh jajaran pengurus PWI Sulteng, yakni Sekretaris PWI Sulteng Temu Sutrisno, Wakil Ketua Bidang Organisasi Fery, Divisi Pendidikan Jefrianto, serta Divisi Budaya Jamrin AB.

Perwakilan Tim Kemenbud, A. Sulkarnaen, menjelaskan bahwa kegiatan survei dan koordinasi yang berlangsung pada 11–14 Agustus 2026 di Kota Palu dan Kabupaten Sigi ini bertujuan untuk menghimpun data historis, memetakan potensi lokal, serta menjajaki dukungan fasilitasi pelaksanaan Temu Narasi SYAM.

“Kami berkoordinasi dan berdiskusi dengan berbagai pihak, termasuk insan pers di PWI Sulteng, untuk menggali narasi serta informasi krusial mengenai keberadaan jejak ajaran dan murid Syekh Yusuf di wilayah ini,” ujar Sulkarnaen.

Dalam diskusi tersebut, PWI Sulteng memaparkan sejumlah tradisi lisan yang masih hidup di tengah masyarakat, khususnya di kawasan Donggala dan Tawaeli. Di Tawaeli, misalnya, berkembang kisah tutur mengenai sosok mubalig asal Sendana (Mandar) bernama Daeng Kondang atau Bulangisi.

Tokoh tersebut diyakini masyarakat setempat sebagai salah seorang murid Syekh Yusuf Al-Makassari yang menyebarkan ajaran Islam di Teluk Palu pada abad ke-17.

Diskusi berkembang pada pentingnya posisi Selat Makassar sebagai jalur maritim intelektual Islam. Pelabuhan Donggala dan Wani dinilai memiliki peran vital sebagai simpul penghubung (hub) perdagangan, pelayaran, serta penyebaran gagasan keagamaan yang mempertemukan jalur Makassar, Manado, hingga kawasan Teluk Palu.

“Pembahasan mengenai Syekh Yusuf tidak lagi ditempatkan dalam batas-batas wilayah administratif semata, melainkan dalam ruang maritim yang memungkinkan berlangsungnya perpindahan ulama, mubalig, pedagang, dan komunitas Muslim antarpelabuhan,” tambah Sulkarnaen.

Selain pergerakan maritim, pertemuan tersebut juga mengungkap hubungan antara ajaran tarekat yang dibawa Syekh Yusuf dengan komunitas warga asal Cikoang yang bermukim di Palu dan sekitarnya. Sebagian dari komunitas Cikoang tersebut hingga kini masih mengamalkan ajaran tarekat, seperti Khalwatiyah, Naqsabandiyah, dan Qadiriyah.

PWI Sulteng turut memaparkan tiga fase penyebaran Islam di Sulawesi Tengah, yakni, Fase Pertama: Diberikan oleh mubalig asal Minangkabau, Dato Karama. Fase Kedua: Penyebaran oleh mubalig asal Bugis, Makassar, dan Mandar (termasuk jaringan murid Syekh Yusuf). Dan Fase Ketiga: Diteruskan oleh Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua) serta organisasi Islam modern seperti Muhammadiyah.

Seluruh himpunan informasi mengenai tradisi lisan, jaringan pelayaran maritim Donggala-Wani, serta perkembangan tarekat ini akan dijadikan bahan utama dalam penyusunan materi dan fasilitasi Temu Narasi: Syekh Yusuf Al-Makassari di Sulawesi Tengah. (*)

Komentar