SALAKAN, Sebuah monumen yang sarat makna kini berdiri di Desa Tangkop, Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) setelah prasasti peresmian ditandatangani bersama antara Rektor Unismuh Luwuk, Dr. Sutrisno K. Djawa, Bupati Bangkep, Rusli Moidady, Camat Liang Irpan Majang, serta Kepala Desa Tangkop, Mustarif Moidady, pada Senin, (24/08/2026).
Bernama Tugu Maleo Tanjung Pinalong, monumen tersebut tidak hanya menjadi penanda kawasan, tetapi juga merepresentasikan sejarah, budaya, dan semangat Montolutusan yang hidup di tengah masyarakat setempat.
Pembangunan Tugu Maleo Tanjung Pinalong merupakan hasil kolaborasi mahasiswa KKN Unismuh Luwuk yang ditempatkan di Desa Tangkop bersama Pemerintah Desa Tangkop.
Pemilihan burung Maleo sebagai bagian dari monumen tersebut bukan tanpa alasan. Di balik Tanjung Pinalong, terdapat kisah yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Dalam sejarah lisan yang berkembang di masyarakat, pada abad ke-16 Abu Kasim, putra Raja Banggai, melakukan perjalanan dengan membawa burung Maleo menuju Batui, Kabupaten Banggai.
Dalam perjalanan tersebut, rombongan melewati kawasan Tanjung Pinalong. Di tempat itu, perjalanan mereka dipercaya mendapat gangguan dari putri yang diasingkan atau dalam bahasa lokal dikenal dengan sebutan “Boine Iosulu” bersama bangsa Jin Liang.
Tanjung tersebut kemudian dipercaya mengalami perubahan bentuk hingga menghalangi perjalanan. Abu Kasim lalu melakukan ritual dan doa, kemudian melemparkan (Pinalonggon) potongan kayu sebanyak tiga kali hingga gangguan tersebut berakhir.
Kisah serupa juga dipercaya dialami para pengantar telur Maleo sekitar tahun 1600-an. Gangguan tersebut akhirnya mereda setelah Masendeng, seorang panglima berdarah Kesultanan Tidore, menikahi Boinye Nyosulung.
Cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi itu kemudian menjadi salah satu bagian dari latar sejarah dan budaya masyarakat di tiga Kabupaten Banggai bersaudara (Banggai Laut, Banggai Kepulauan dan Kabupaten Banggai) yang kemudian diabadikan dalam tradisi ritual adat Malabot Tumbe.
Bagi masyarakat setempat, kisah tersebut bukan sekadar cerita masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai sejarah, identitas budaya, serta pesan mengenai hubungan antargenerasi dan pentingnya menjaga warisan leluhur.
Kepala Desa Tangkop, Mustarif Moodady menuturkan, pembangunan Tugu Maleo Tanjung Pinalong diharapkan tidak hanya menjadi ikon desa, tetapi juga menjadi pengingat bagi generasi muda untuk mengenal dan menghargai sejarah yang hidup di tengah masyarakat.
Sementara itu, Ikhsan S. Abd. Razak menyebut, Malabot Tumbe bukan sekadar ritual adat yang sakral. Tradisi tersebut merupakan bagian dari jejak sejarah yang terus hidup, menjadi pengikat persaudaraan, sekaligus amanah leluhur untuk menjaga persatuan dan melestarikan kebudayaan.
Dalam konteks tersebut, keberadaan Tugu Maleo Tanjung Pinalong memiliki makna yang lebih luas.
Monumen ini menjadi titik temu antara masa lalu dan masa depan. Kisah tentang perjalanan Abu Kasim, burung Maleo, Tanjung Pinalong, serta warisan leluhur kini diterjemahkan dalam sebuah monumen yang dapat dilihat dan dikenang oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang.
Yang tak kalah penting, monumen tersebut lahir dari kolaborasi mahasiswa KKN dan masyarakat desa. Kehadiran mahasiswa Unismuh Luwuk di Desa Tangkop tidak berhenti pada pelaksanaan program pengabdian, tetapi diwujudkan dalam sebuah karya yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan.
Tugu Maleo Tanjung Pinalong pada akhirnya bukan sekadar sebuah bangunan. Ia menjadi simbol bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat meninggalkan jejak yang bermakna—menghidupkan kembali cerita masa lalu, memperkuat identitas masyarakat, sekaligus memperkenalkan warisan budaya kepada generasi yang akan datang. (*)

Komentar