Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banggai memperketat kewaspadaan terhadap ancaman radikalisme digital di wilayahnya. Seluruh orang tua dan wali murid diimbau untuk memperketat pengawasan penggunaan gawai (gadget) pada anak guna mencegah terpaparnya generasi muda dari doktrin kekerasan.
Langkah tegas ini kembali diambil menyusul adanya indikasi keterlibatan sejumlah remaja di Kabupaten Banggai dalam jaringan digital radikal berorientasi kekerasan ekstrem.
Ancaman laten tersebut terkuak saat Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Banggai mendampingi tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri melakukan penelusuran di empat kecamatan, termasuk kawasan perkotaan.
Hasil temuan lapangan menunjukkan sejumlah remaja diduga telah terhubung dengan jaringan True Crime Community (TCC)—komunitas berbasis digital yang menggemari hingga mempropagandakan aktivitas kekerasan ekstrem serta permainan gim berunsur radikal.
Menanggapi temuan krusial tersebut, Wakil Bupati Banggai, Furqanudin Masulili, menegaskan kembali imbauan yang sebelumnya disuarakan oleh Bupati Banggai, Amirudin. Ia meminta lingkungan keluarga menjadi benteng utama pengawasan anak.
“Remaja yang terpapar kekerasan ekstrem ini harus mendapatkan pembinaan intensif, terutama dari orang tua. Harus ada kontrol dan edukasi yang berkelanjutan. Pesatnya arus informasi melalui teknologi saat ini sangat rentan menyusupkan situs-situs atau konten menyesatkan yang membahayakan masa depan anak,” ujar Furqanudin kepada Luwuk Post, Selasa (1/9/2026).
Sementara itu, Kepala Bidang P3A DP2KBP3A Kabupaten Banggai, Evelin, menegaskan bahwa perilaku destruktif pada anak belakangan ini kerap terstimulasi oleh paparan media sosial dan gim online.
“TCC merupakan grup berbasis digital yang berorientasi pada konten dan aktivitas kekerasan ekstrem. Ini fenomena yang sangat berbahaya bagi tumbuh kembang dan psikologis anak jika dibiarkan tanpa intervensi,” tegas Evelin saat mengisi materi pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan, Jumat (28/8/2026).
Merespons isu temuan Densus 88 tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Banggai, Syafrudin Hinelo, menyatakan perlunya kolaborasi erat antara pihak sekolah dan keluarga.
“Harus ada kerja sama antara guru dan orang tua agar pembinaan di sekolah selaras dengan pembinaan di rumah. Memang ancaman doktrin untuk mengubah pola pikir anak saat ini sangat banyak,” kata Syafrudin saat ditemui Luwuk Post, Selasa (1/9/2026).
Ia menambahkan, pihak Disdikbud terus mendorong para pendidik untuk membentengi para siswa secara intelektual agar tidak mudah terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang menyesatkan.
“Namun, pembinaan di sekolah saja tidak cukup karena waktu anak lebih banyak di rumah. Ini bukan melempar tanggung jawab, melainkan bentuk ajakan agar kita bersama-sama membentengi anak-anak dari bahaya doktrin tidak baik,” lanjutnya.
Syafrudin juga mengimbau masyarakat untuk aktif melaporkan jika menemukan hal-hal yang berbau kekerasan dalam lingkungan pendidikan guna mempermudah proses evaluasi dan pengawasan.
“Dengan jumlah sekolah yang banyak serta jarak rentang kendali yang luas, kami sangat membutuhkan informasi secara berjenjang. Ketika ada laporan masuk ke dinas, insyaallah akan langsung kami tindak lanjuti secepatnya,” pungkas Syafrudin.(ap/mm)

Komentar