Gandeng Berbagai Pihak, Unismuh Luwuk Perkuat Konservasi Maleo

Luwukpost.id -

Upaya menjaga keberlangsungan burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Kabupaten Banggai terus diperkuat melalui Program Kemitraan Wallacea III Burung Indonesia. Hal ini mendorong Universitas Muhammadiyah Luwuk untuk mengambil peran penting melalui pelaksanaan program konservasi.

Mengusung tema “Konservasi Satwa Endemik, Perlindungan dan Pemantauan Sarang Berbasis Komunitas Lokal serta Penguatan Kelembagaan pada Kawasan Konservasi Maleo (Macrocephalon maleo) Terancam Punah di Nesting Ground Desa Bukit Jaya” Unismuh Luwuk bekerjasama dengan Sa’angu Adventure dan Kelompok Pemerhati Maleo Jaya Lestari.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, pemerintah daerah, pemerintah desa, serta masyarakat setempat, ikut mendukung pelaksanaan program tersebut.

Merespon dukungan dari berbagai kalangan tersebut, Ketua Tim Pelaksana Program, Wahyudin Abd. Karim dari Unismuh Luwuk, menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, keberhasilan konservasi tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan di lapangan. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena masyarakat berada paling dekat dengan kawasan nesting ground dan memiliki peran dalam menjaga habitat Maleo secara berkelanjutan.

“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah setempat yang telah menerima kami dengan baik sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar. Kami juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Komunitas Jaya Lestari beserta seluruh anggota yang telah membantu dan mendukung proses pelaksanaan kegiatan konservasi Maleo di Desa Bukit Jaya,” ujarnya.

Ia juga memaparkan adanya ancaman kepunahan dari hewan endemic has Sulawesi Tengah di Desa Bukit Jaya itu. Ancaman tersebut antara lain pelepasliaran hewan ternak yang dapat mengganggu dan merusak area peneluran, jalur akses masyarakat menuju kawasan perkebunan yang meningkatkan aktivitas manusia di sekitar lokasi sarang, aktivitas penambangan pasir yang berpotensi mengubah karakteristik habitat, serta pengambilan telur Maleo yang dapat memengaruhi keberhasilan reproduksi.

Selain ancaman tersebut, program juga mengidentifikasi sejumlah persoalan yang perlu ditangani, seperti belum tersedianya data dan informasi mengenai populasi serta kondisi sarang Maleo, belum optimalnya tata kelola dan sistem pengamanan kawasan peneluran, serta belum maksimalnya kapasitas dan peran masyarakat dalam perlindungan Maleo.

Karena itu, Program Kemitraan Wallacea III menempatkan Kelompok Pemerhati Maleo Jaya Lestari sebagai salah satu aktor utama dalam pelaksanaan konservasi di tingkat tapak.

Pendekatan konservasi berbasis masyarakat tersebut mencakup perlindungan habitat peneluran, pemantauan sarang dan keberhasilan reproduksi, pengurangan tekanan terhadap kawasan, penguatan kelembagaan lokal, serta kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, lembaga konservasi dan pemerintah daerah.

Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah survei dan pemetaan partisipatif untuk mengidentifikasi lokasi sarang Maleo, area penyangga, jalur akses masyarakat, lokasi pelepasliaran ternak, titik aktivitas penambangan pasir, serta kawasan yang rawan banjir dan erosi.

Program yang dijadwalkan berlangsung selama 1 tahun tersebut (dimulai sejak September 2026 hingga Agustus 2027), Menggunakan Pendekatan yang menitikberatkan pada konservasi berbasis masyarakat melalui perlindungan habitat, pemantauan sarang, pengurangan ancaman terhadap kawasan nesting ground, peningkatan kapasitas kelompok lokal, serta penguatan kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Sebagai langkah awal, Tim Pelaksana Program Kemitraan Wallacea III melakukan pemaparan program dan rencana kerja kepada BKSDA Sulawesi Tengah melalui Zoom Meeting pada 8 September 2026. Selanjutnya akan Koordinasi dan sosialisasi program di Desa Bukit Jaya, Kecamatan Toili Jaya, Kabupaten Banggai, pada 18 September 2026 lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Desa Bukit Jaya turut menyampaikan apresiasi. Keberadaan Kelompok Pemerhati Maleo Jaya Lestari dinilai telah memberikan kontribusi dalam menjaga keberadaan Maleo sekaligus menjadikan Desa Bukit Jaya sebagai salah satu lokasi yang memiliki nilai penting untuk penelitian dan kegiatan konservasi.

Sementara itu, unsur kepolisian melalui Bhabinkamtibmas Kecamatan Toili menekankan pentingnya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Kebakaran dapat merusak habitat satwa liar, termasuk kawasan yang menjadi lokasi peneluran Maleo.

Disaat yang sama, Camat Toili Jaya juga mendorong penguatan kolaborasi antara komunitas, masyarakat, pemerintah desa, pemerintah kecamatan dan pemerintah kabupaten.

Sejumlah langkah yang dinilai perlu diperkuat meliputi perlindungan dan perbaikan habitat Maleo, pengembangan tanaman kemiri sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan, penguatan aturan konservasi di tingkat desa, serta peningkatan kepedulian masyarakat terhadap perlindungan satwa endemik.

Dari BKSDA Sulawesi Tengah, I Nyoman Ardika, menjelaskan peran dan kewenangan BKSDA dalam pengelolaan kawasan konservasi serta perlindungan satwa liar. Ia menyebut kawasan nesting ground Maleo di Desa Bukit Jaya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan dengan nilai konservasi tinggi, termasuk peluang diarahkan menjadi kawasan preservasi maupun kawasan konservasi esensial.

BKSDA Sulawesi Tengah, kata Nyoman, akan mendukung sepenuhnya upaya konservasi yang dilaksanakan Unismuh Luwuk bersama Burung Indonesia dalam upaya menjaga keberadaan Maleo di Sulawesi Tengah.

Lebih jauh, kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, lembaga konservasi dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu membangun tata kelola kawasan peneluran yang efektif dan berkelanjutan, sehingga keberadaan Maleo sebagai satwa endemik Sulawesi tetap terjaga. (*/and)

Komentar