Satu Laga Mengubah Segalanya: Dari Mahasiswa Bahasa Jepang ke FIFA

Oleh: Ahmed Ipesa-Balogun Kontributor Luwuk Post di Amerika Serikat

Luwukpost.id -

Tak ada dalam rencana awal Trey Higdon untuk membangun karier di dunia sepak bola. Ketika pertama kali menginjak bangku perguruan tinggi, ia justru memilih pendidikan bahasa Jepang.

Pilihan itu sebenarnya cukup masuk akal. Selama empat tahun di sekolah menengah, Higdon telah mempelajari bahasa Jepang dan sempat membayangkan dirinya menekuni profesi sebagai pendidik.

Namun, sebuah pertandingan sepak bola pada 2011 perlahan mengubah arah hidupnya.

Saat itu, ia bersama sang kakak pergi ke Baltimore untuk menyaksikan pertandingan. Mereka bergabung dengan kelompok suporter Liverpool dan Tottenham Hotspur.

Bagi Higdon, pengalaman tersebut bukan sekadar menyaksikan 90 menit pertandingan.

Ia mulai melihat sepak bola dari sisi yang berbeda. Sepak bola ternyata bukan hanya soal apa yang terjadi di dalam lapangan. Di sekelilingnya ada komunitas, identitas, cerita, emosi, dan jutaan orang yang memiliki kecintaan yang sama terhadap permainan tersebut.

Dua tahun berselang, titik balik itu datang.

Sebuah klub profesional baru diumumkan di Indianapolis. Higdon menghadiri acara tersebut bersama kelompok suporter. Ia semula hanya membayangkan dirinya berdiri di tengah kerumunan.

Namun, yang terjadi justru di luar dugaan.

Ia malah berada di atas panggung bersama pejabat klub, perwakilan liga, dan pemerintah kota, di hadapan sekitar 800 hingga 1.000 orang.

Malam itu menjadi momen yang mengubah cara pandangnya terhadap masa depan.

“Saat itu saya menyadari bahwa saya ingin bercerita. Saya ingin melakukan sesuatu di olahraga ini,” ujarnya.

Hanya sepekan kemudian, Higdon menemui penasihat akademiknya.

Keputusan besar pun dibuat.

Pada semester berikutnya, ia meninggalkan jurusan pendidikan bahasa Jepang dan beralih ke jurnalistik.

Dari situlah perjalanan profesionalnya di dunia sepak bola benar-benar dimulai.

Setelah menyelesaikan pendidikan pada 2015, Higdon mengerjakan berbagai proyek jurnalistik sebelum akhirnya bergabung dengan Indy Eleven. Pada 2018, ia resmi bekerja penuh waktu di klub tersebut.

Tugasnya pun berkembang. Ia menangani hubungan media, komunikasi, media sosial, fotografi hingga produksi video.

Selama empat tahun, ia berada di balik layar pertandingan dan menjadi penghubung antara klub, pemain, staf pelatih, serta media.

Pengalaman itu kemudian membuka jalan menuju berbagai pekerjaan komunikasi sepak bola lainnya.

Hingga akhirnya, datang kesempatan yang membawanya ke panggung terbesar sepak bola dunia: bekerja bersama tim yang menangani konten media sosial FIFA selama turnamen.

Di lingkungan FIFA, ritme kerja berubah drastis.

Timnya dituntut menangkap dan menyampaikan berbagai cerita yang muncul sepanjang pertandingan. Sebagian cerita memang telah dipersiapkan sebelum laga, mulai dari kemungkinan rekor, pencapaian pemain hingga berbagai momentum yang berpotensi terjadi.

Namun, begitu pertandingan dimulai, semuanya dapat berubah dalam hitungan detik.

Satu gol bisa mengubah seluruh rencana.

Sebuah rekor yang tercipta secara tiba-tiba harus segera diangkat. Foto ditarik, video dipersiapkan, grafis diperbarui, dan cerita harus segera sampai kepada penggemar.

Kecepatan menjadi penting. Tetapi Higdon menemukan pelajaran lain yang tak kalah besar: kualitas cerita tetap menjadi yang utama.

Menurutnya, pengalaman bekerja di FIFA mengubah cara pandangnya terhadap produksi konten digital.

Di level klub, pekerjaan komunikasi sering kali menuntut kecepatan dan kuantitas. Namun, berada di lingkungan FIFA membuatnya semakin memahami bahwa banyaknya konten bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

“Bukan soal sebanyak apa konten yang kita keluarkan, tetapi seberapa kuat setiap konten yang kita keluarkan,” katanya.

Karena itu, setiap unggahan harus memiliki tujuan.

Terlalu banyak konten justru dapat membuat satu cerita kehilangan perhatian karena tertutup oleh cerita lainnya.

Untuk menjaga kualitas tersebut, setiap anggota tim memiliki peran masing-masing. Ada yang menangani foto, video, desain, penyuntingan hingga distribusi.

Pembagian tugas yang jelas memungkinkan setiap cerita diproduksi dengan cepat tanpa kehilangan kualitas.

Namun, dari seluruh pengalaman bekerja di atmosfer Piala Dunia, ada satu momen yang terasa jauh lebih personal bagi Higdon.

Ia mendapat kesempatan menyaksikan pertandingan Jepang melawan Swedia di Dallas sebagai seorang penggemar.

Pertandingan itu seperti mempertemukan berbagai potongan perjalanan hidupnya dalam satu tempat.

Bertahun-tahun sebelumnya, ia adalah mahasiswa yang mempelajari bahasa Jepang.

Kemudian ia beralih ke jurnalistik, masuk ke dunia komunikasi klub, dan akhirnya bekerja di balik layar FIFA.

Kini, ia berada di sebuah pertandingan Piala Dunia yang melibatkan Jepang—bahasa dan budaya yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan akademiknya.

“Semua pengalaman saya seolah bertemu dalam satu pertandingan itu,” katanya.

Momen tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan kariernya.

Ia menikmati pertandingan sebagai penggemar. Setelah laga berakhir, ia kembali ke pusat siaran dan berbagi pengalaman dengan rekan-rekannya yang tetap bekerja sepanjang pertandingan.

Di balik gemerlap Piala Dunia, Higdon juga melihat sesuatu yang tidak kalah menarik: keberagaman latar belakang orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Ada yang memiliki pengalaman di level Premier League. Ada yang datang dari organisasi berita besar. Ada pula yang memulai karier dari klub sepak bola lokal.

Latar belakang mereka berbeda-beda.

Namun, mereka dipertemukan oleh satu hal: sepak bola.

Bagi Higdon, perjalanan itu menjadi bukti bahwa karier tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Ia tidak memulai kuliah dengan cita-cita bekerja di dunia olahraga. Bahkan, jalur pertamanya justru berada di ruang kelas dan bahasa Jepang.

Namun, sebuah pertandingan pada 2011 membuka pintu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

Dari mahasiswa bahasa Jepang, ia berubah menjadi jurnalis.

Dari kelompok suporter, ia masuk ke dunia komunikasi klub.

Dari sepak bola lokal, langkahnya kemudian membawanya ke balik layar FIFA.

Semua bermula dari satu pertandingan—dan dari sebuah keputusan sederhana untuk tidak sekadar menonton sepak bola, tetapi memilih untuk menceritakan kisah-kisah yang ada di baliknya.(*)

Komentar