Kata Akademisi Luwuk Jika Pilkada Hanya Dua Paslon

Luwukpost.id -
Kisman Karindra
Kisman Karindra

LUWUK, LUWUK POST—Tahapan Pilkada Kabupaten Banggai masih  terus bergulir. Tetapi, jika nanti Pilkada Banggai hanya diikuti dua paslon, akan seperti apa konstelasinya?

Akademisi Unismuh Luwuk, Kisman Karindra, melihat jika Pilkada Banggai hanya tersisa dua paslon maka yang terjadi adalah istilah head to head. Dalam head to head, kata dia, akan terlihat secara jelas plus minus masing-masing paslon, setelah salah satu dapat mengungguli lawannya. “Di sini nanti akan teruji,  taktik dan strategi pemenangan masing-masing paslon. Di sini akan terjawab, apakah mesin politik masing-masing paslon berjalan maksimal atau tidak,” tuturnya, belum lama.

Sebab, kata dia, yang dapat dikatakan unggul, adalah mereka yang mampu memaksimalkan seluruh potensi, mulai dari mesin partai pengusung atau tim relawan, hingga tentu saja kemampuan memanajemeni aspek finansial.

Ia mengakui, asumsi head to head baru kali ini mewarnai Pilkada Banggai. Sebab, pada tahun 2011 dan 2015, pilkada diikuti lebih dari dua paslon. Artinya masing-masing paslon memiliki basis massa, dan secara perhitungan suara tersebar ke beberapa calon.

Apalagi di masa itu diikuti juga oleh paslon incumbent yang dibantu oleh mesin partai dan juga “memanfatkan” struktur birokrasi.

“Nah kali ini, jika incumbent benar-benar tidak ikut dalam pesta demokrasi maka dapat dipastikan tidak ada kehawatiran akan adanya keberpihakan birokrasi secara berlebihan,” tuturnya.

Kisman melihat, saat ini baik AT-FM maupun HATIMU, masih menyimpan strategi jitunya. Keduanya pun memiliki peluang untuk menang. “Kekuatan hampir berimbang, karena yang satu didukung oleh jumlah partai pengusung yang besar, dan paslon satunya memiliki kemampuan finansial di atas rata-rata.

Prediksi saya ini akan menjadi perhelatan yang seru, karena masing-masing akan mengeluarkan segenap kemampuannya. Tentunya yang akan unggul adalah paslon yang dapat memaksimalkan segenap potensi yang ada,” paparnya.

Hanya saja, ia mengingatkan, jumlah partai koalisi yang memiliki kursi dominan, tidak menjadi jaminan untuk memenangkan pertarungan. Pun demikian, finansial yang berlimpah jika tidak dikelola dengan baik akan seperti menebar garam di laut.

Ia juga melihat netralitas penyelenggara akan mampu mewujudkan pilkada yang demokratis. “Kalau head to head akan berlangsung sengit, maka akan diuji lagi netralitas penyelenggara,” tuturnya.

Meski saat ini, ia melihat di awal perhelatan, penyelenggara telah mampu menunjukkan kepada publik Banggai sejauh mana ketegasannya dalam membuat keputusan besar. “Saya sebagai akademisi sangat mengapresiasi,” tegasnya. (ris)