Sulitnya ke Ibu Kota Kabupaten, Tumpangi Ketinting hingga Kapal Ikan

Luwukpost.id -

BANGGAI, LUWUK POST— Transportasi laut di Kabupaten Banggai Laut sangat memprihatinkan. Bahkan, terdapat desa-desa yang sulit mengakses kapal penumpang untuk menuju ibu kota kabupaten.

KM Benawa Nusantara 21 dan KM Benawa Nusantara 31 yang dihibahkan Kementerian Perhubungan, hanya dilabuh di Desa Tinakin, Kecamatan Banggai. Di sisi lain, sejumlah desa kesulitan mengakses alat transportasi laut.

Penelusuran Harian Luwuk Post selama lima hari, menunjukkan, Kecamatan Bokan Kepulauan paling sulit dijangkau.  Desa Sonit, Kasuari, dan Timpaus hanya dilayani satu kapal penumpang. Itu pun tidak setiap harinya melayani penyeberangan.

Warga Desa Minanga harus menunggu satu kapal penumpang dari Desa Kokudanf agar dapat ke Banggai, ibu kota Kabupaten Banggai Laut. Melayani rute ini juga tidak setiap hari.

Di Desa Nggasuang dan Sub Desa Tongo, warga harus menumpangi ketinting ke Desa Bungin, sebelum naik kapal penumpang ke Banggai. Sebagai ibu kota kecamatan, Bungin disinggahi kapal penumpang setiap hari.

Sama halnya dengan Sub Desa Bumi Hijrah yang berada di Pulau Jodoh. Bumi Hijrah merupakan bagian dari Desa Nggasuang. Ke Banggai, harus ke Desa Bungin terlebih dahulu dengan menaiki alat transportasi seadanya.

Akibat tak ada kapal laut yang memadai, hasil perikanan di Sub Desa Bumi Hijrah banyak dijual hingga Sulawesi Tenggara agar minim ongkos. Meski harus melewati Laut Maluku.

Sub Desa Bumi Bahari yang tergabung dalam Desa Toropot juga demikian. Jika ke Banggai, warga Bumi Bahari ke Toropot dahulu menggunakan ketinting agar dapat kapal penumpang reguler ke ibu kota kabupaten.

“Satu minggu dua kali saja keliling layani transportasi di desa-desa yang terpisah pulau dengan Pulau Bokan Kepulauan, sebenarnya sudah lumayan,” ujar Ikbal, warga Desa Mbuang-mbuang.

Mbuang-mbuang meski terpisah pulau dengan Pulau Bokan Kepulauan, tetapi masih dilayani transportasi langsung dari ibu kota kabupaten. Meski juga tidak setiap harinya.

Bergeser ke Kecamatan Bangkurung, penelusuran koran ini masih terdapat Desa Togong Sagu yang sulit diakses. Desa ini berdiri di atas gugusan pulau sendiri, terpisah dari Pulau Bangkurung.

Informasi yang dihimpun, warga Desa Togong Sagu biasanya menggunakan kapal ikan ke ibu kota Kecamatan Bangkurung, lalu berpindah ke kapal penumpang yang melayani penyeberangan ke ibu kota kabupaten.

Kapal ikan biasanya ke Desa Togong Sagu seminggu sekali. Adapun kapal reguler sebulan sekali. Mayoritas masyarakat desa ini bekerja sebagai nelayan dan petani rumput laut. (ali)