Lonjakan harga bahan bakar pesawat (avtur) mulai memicu efek domino terhadap industri penerbangan di Kabupaten Banggai. Kenaikan drastis ini berdampak langsung pada penghentian sementara sejumlah rute penerbangan domestik dari dan menuju Bandara Syukuran Aminuddin Amir (SAA) Bubung, Luwuk.
Berdasarkan data resmi One Solution Pertamina, harga avtur untuk periode 1–30 April 2026 di Bandara SAA Luwuk menyentuh angka Rp25.576 per liter. Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sekitar 70 persen dibandingkan periode Maret yang berada di kisaran Rp15.682 per liter.
Imbas dari kenaikan tersebut, rute penerbangan AirAsia untuk jalur Surabaya–Makassar–Luwuk (PP) dipastikan berhenti beroperasi untuk sementara waktu.
General Manager AirAsia Luwuk, Edwin, mengonfirmasi bahwa langkah ini diambil menyusul tingginya biaya operasional akibat melambungnya harga bahan bakar. Namun, ia menegaskan bahwa status rute tersebut bukan ditutup secara permanen.
“Tidak tutup, hanya berhenti beroperasi sementara mulai tanggal 16 April 2026 sampai 21 Mei 2026,” jelas Edwin melalui pesan singkat, Senin (13/4).
Selain faktor harga avtur, Edwin memaparkan bahwa rendahnya tingkat keterisian penumpang atau load factor turut menjadi pertimbangan manajemen. Terkait nasib rute lainnya, pihak maskapai masih melakukan evaluasi mendalam. “Kami masih menunggu keputusan final dari manajemen pusat,” pungkasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Seksi Pelayanan dan Kerjasama Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) SAA Luwuk, Eko Budi Haryono, menjelaskan bahwa AirAsia tidak “hengkang” dari Luwuk. Menurutnya, penundaan ini berkaitan erat dengan pengaturan rotasi pesawat dan dinamika geopolitik global yang memengaruhi operasional maskapai internasional.
“Melalui surat resminya, mereka melakukan postpone (penundaan) hingga 21 Mei. Selama periode itu, mereka akan mengevaluasi jadwal dan rotasi pesawat. Kemungkinan setelah tanggal tersebut akan dipublikasikan lagi jadwal operasionalnya,” ujar Eko saat ditemui di kantor UPBU SAA Bubung, Selasa (14/4/2025).
Kondisi serupa juga dialami maskapai lain. Eko menyebutkan bahwa pihak Batik Air saat ini juga tengah melakukan evaluasi internal terkait penyesuaian armada dan jadwal operasional, meski belum memberikan batas waktu pasti terkait penyesuaian rute mereka.
Guna menjaga konektivitas udara dan daya beli masyarakat, Eko mengungkapkan bahwa pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah menyiapkan langkah antisipatif. Salah satunya adalah kebijakan stimulus berupa penyesuaian biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge).
“Ada kebijakan stimulus terkait fuel surcharge, sekitar 38 persen jika merujuk pada rilis media sebelumnya. Ini adalah peran pemerintah untuk menjaga sektor transportasi di tengah fluktuasi harga avtur,” jelasnya.
Pihak bandara berharap kondisi geopolitik global segera mereda agar harga avtur kembali stabil. “Harapannya aktivitas operasional di Bandara Luwuk kembali normal sehingga dapat kembali melayani masyarakat Banggai, Banggai Kepulauan, hingga Banggai Laut secara maksimal,” harap Eko. (*/AP)

Komentar