Dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tompotika (Untika) Luwuk, Nurul Pratiwi, S.Pd., M.A., terpilih sebagai peserta Program Laboratorium Penerjemah Sastra 2026 yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Nurul menjadi satu dari 15 peserta yang lolos dari 134 pendaftar dari seluruh Indonesia. Hasil seleksi diumumkan Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan melalui akun Instagram resminya, @ekosistem.budaya, pada Ahad, 28 Juni 2026.
Laboratorium Penerjemah Sastra merupakan program pembinaan bagi penerjemah sastra pemula. Peserta akan mengikuti pelatihan intensif bersama penerjemah, sastrawan, akademisi, dan pegiat perbukuan dari dalam maupun luar negeri. Selain mempelajari penerjemahan sastra, peserta juga akan didampingi mengerjakan proyek penerjemahan karya sastra Indonesia yang telah dipilih.
Dekan FKIP Universitas Tompotika Luwuk, Fatima M. Usman, S.Pd., M.Pd., mengatakan keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan bagi fakultas sekaligus menunjukkan bahwa dosen Untika mampu bersaing pada tingkat nasional.
“Kami sangat bangga atas terpilihnya Ibu Nurul. Ini bukan hanya capaian personal, tetapi juga bukti bahwa dosen-dosen Untika mampu bersaing di level nasional. Kami berharap ilmu dan jejaring yang diperoleh selama mengikuti Laboratorium Penerjemah Sastra dapat dimanfaatkan untuk mengangkat karya sastra daerah Sulawesi Tengah ke kancah internasional, sekaligus memperkuat literasi dan budaya maritim melalui penerjemahan,” ujar Fatima.
Menurut Fatima, pencapaian itu diharapkan menjadi motivasi bagi sivitas akademika Untika untuk terus berkarya dan meningkatkan reputasi kampus.
Nurul mengaku bersyukur dapat lolos dalam program tersebut. Ia mengatakan persaingan berlangsung ketat karena kuota peserta sangat terbatas.
“Alhamdulillah bisa lolos. Saya sempat merasa cemas menunggu pengumuman karena hanya tersedia 15 kuota. Saya berharap pengalaman selama pelatihan dan penggarapan proyek penerjemahan nanti dapat memperkaya strategi pembelajaran mata kuliah Translation yang saya ampu,” kata Nurul.
Program Laboratorium Penerjemah Sastra pertama kali digelar pada 2025. Program itu menghasilkan buku kumpulan nukilan terjemahan berjudul Writings from the Archipelago Vol. 1, yang telah diperkenalkan dalam sejumlah forum sastra, antara lain Indonesia International Book Fair, Ubud Writers & Readers Festival, dan Festival Sastra Kota Malang.
Melalui program tersebut, Kementerian Kebudayaan menargetkan lahirnya penerjemah sastra yang memiliki kemampuan teknis, wawasan kebudayaan, dan jejaring profesional untuk memperluas jangkauan karya sastra Indonesia di tingkat internasional. ***

Komentar